Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Renungan Islam: Akhlak Islami

 

Ali bin Abi Thalib, salah satu keponakan, Sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw, beliau pernah berwasiat kepada umat Islam “hisablah diri kalian sebelum dihisab kelak, timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak”.


Wasiat ini sungguh dalam maknanya terutama dalam menjalani kehidupan, melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah Swt dan kepada sesama. Renungan Islam yang diwasiatkan Ali bin Abi Thalib, ibarat minatur Alam Hisab yang suatu hari nanti, pasti akan manusia alami.  


Hakikat Islam


Tak jarang, kita lebih sering menyalahkan orang lain dalam banyak hal tanpa berpikir sebelumnya, jangan-jangan masalah itu timbul karena kesalahan kita juga. Ibarat pepatah mengatakan semut di ujung lautan terlihat, tapi gajah di depan mata tak terlihat, begitulah sifat manusia pada umumnya.


Maka pantaslah jika hakikat Islam yang dijelaskan Rasulullah saw tak lepas dari empat perkara, yaitu akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Jika akidah dan ibadah identik dengan beribadah kepada Allah Swt (ahabbu ilallah), maka muamalah dan akhlak identik dengan berbuat baik kepada sesama manusia (ahabbu ilalnnas).


Akhlak = Senjata Rahasia


Keseimbangan memang sangat diperhatikan dalam Islam. Bukanlah muslim yang baik jika hanya beribadah kepada Tuhannya, tapi gemar menyakiti sesama. Bukan pula muslim yang bijak jika rajin salatnya, namun tak rajin sedekahnya. Maka akhlak, memegang peranan yang teramat penting dalam Islam.


Di zaman Rasulullah saw, banyak sekali non-muslim yang kemudian menjadi muslim bukan karena diperangi, dipaksa, atau disogok, tapi karena melihat akhlak Rasul dan para sahabatnya yang memberi kenyamanan, baik kepada sesama muslim atau kepada non-muslim.


Pernah Rasulullah saw diludahi oleh seorang Yahudi tiap kali akan melaksanakan salat, dan kejadian itu bukan hanya sekali atau dua kali. Tapi pada suatu hari orang Yahudi itu tidak ada karena sakit. Bukannya membalas justru Rasul malah menjenguk dan mendoakannya supaya lekas sembuh. Maka saat itu juga orang Yahudi yang biasa meludahi Rasul masuk Islam karena takjub dengan balasan yang di luar dugaanya.


Inilah istimewanya akhlak Rasul yang harus dijadikan teladan oleh umat Islam sampai akhir zaman. Lalu mengapa umat Islam masih saja ada yang menindas sesama atau umat lainnya hanya karena kepentingan kelompok, politik, dan kekuasaan hingga mengorbankan persaudaraan (ukhuwah) bahkan nyawa yang nilainya jauh lebih tinggi daripada keuntungan dunia semata.


Rasulullah saw Mercusuar Akhlak


Tidak sekadar salat, tidak sekadar zakat, tidak pula sekadar puasa tujuan diutusnya Rasul ke dunia. Lagi pula, tidak sempurna salatnya jika masih maksiat, tidak sempurna zakatnya jika masih korupsi, dan tidak sempurna pula puasanya jika masih belum bersabar. Hakikat ibadah kepada Allah Swt seharusnya bisa dirasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari sehingga bukan menjadi rutinitas semata.


Di samping memberi petunjuk tata cara ibadah yang benar, Rasul pun diutus dalam rangka menyempurnakan akhlak sebagai perilaku yang keluar begitu saja dan mencerminkan diri seseorang tanpa disadari kapan pun dan di mana pun.


Untuk memiliki akhlak mulia tidak terjadi begitu saja. Mempelajari, memahami, mengamalkan akhla,k dan berkaca kepada Rasul adalah keniscayaan dalam Islam, sebab ketika Ummul Mukminin Siti Aisyah ditanya tentang akhlaknya Rasul, ia dengan tegas menjawab, akhlaknya adalah Al Quran.

Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

Idul Adha: Salah Satu Hari Raya Umat Islam

 

Idul Adha merupakan salah satu hari raya keagaaman umat Islam. Di Indonesia, Idul Adha dikenal juga dengan istilah Hari Raya Haji. Salah satu hari besar umat muslim ini memiliki kekhasan berbeda dengan hari raya umat muslim lain. Idul Adha selalu khas karena disertai dengan ritual penyembelihan hewan kurban.


Seperti hari besar umat muslim lain, perayaan Idul Adha selalu diawali dengan sholat sunnah berjamaah. Sholat sunnah Idul Adha dilakukan sebanyak dua rakaat. Diawali dengan gema takbir yang berkumandang pada malam sebelum perayaan. Sholat Idul Adha biasanya dilakukan di lapangan yang luas, agar semua umat muslim bisa ikut sholat Idul Adha secara berjamaah.


Tradisi penyembelihan hewan kurban pada setiap perayaan Idul Adha diawali dengan cerita yang terjadi pada zaman Nabi Ibrahim. Cerita mengenai Nabi Ibrahim as terkandung dalam Al quran. Saat itu, Allah tengah menguji ketaatan Nabi Ibrahim kepada-Nya. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.


Nabi Ibrahim berada pada keadaan yang sangat sulit. Beliau dihadapkan pada dua pilihan yang tidak bisa ia pilih. Dua-duanya adalah kecintaannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah dan anak lelakinya. Namun, dengan kekuatan hati, Nabi Ibrahim akhirnya bersedia untuk mengorbankan Ismail. Ismail pun demikian. Beliau rela disembelih oleh Ayahnya karena Allah Swt.


Kekuasaan Allah pun diperlihatkan. Keajaiban pun terjadi. Nabi Ismail yang sudah menyerahkan hidup dan matinya ditangah Nabi Ibrahim  mendadak dan secara ajaib digantikan dengan seekor domba. Nabi Ismail lalu ditempatkan oleh Allah di tempat terindah, surga.


Berakar dari cerita itulah tradisi menyembelih hewan kurban dalam perayaan Idul Adha sudah merupakan hal yang wajib dilakukan. Berkurban atau menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan untuk masyarakat umum yang lebih membutuhkan. Di Indonesia, hewan yang biasa dijadikan kurban adalah domba, kambing, dan sapi. Di negara-negara Timur Tengah, hewan onta juga bisa dijadikan hewan kurban.


Penyembelihan hewan kurban biasanya dilakukan setelah sholat Idul Adha selesai dilakukan. Masyarakat biasanya akan ramai menyerbu lapangan tempat penyembelihan hewan kurban. Di Indonesia, pembentukan panitia hewan kurban biasanya dilakukan secara swadaya. Mereka bertugas mendapat hewan kurban, memotong, dan membagi-bagikannya pada warga.


Dengan berkurban, Anda bisa mendapatkan dua nilai baik sekaligus. Nilai yang pertama datangnya pasti dari Allah, sedangkan nilai yang kedua datang dari sesama. Berkurban dan membagi-bagikan dagingnya pada masyarakat sekitar sama dengan berbagi kebahagiaan dengan mereka. Sama seperti hakikat puasa yang mengajarkan kita bagaimana susahnya menahan lapar, berkurban pun demikian. Daging kurban yang dibagikan bisa membuat mereka ikut merasakan kenikmatan yang Anda rasakan.


Idul Adha dilakukan setiap tanggal 10 Dzulhijah menurut penanggalan Hijriah. Untuk lebih mudahnya, Idul Adha dirayakan setelah 70 hari perayaan Hari Raya Idul Fitri. Pada hari menjelang perayaan Idul Adha, umat muslim diharamkan berpuasa. Hari yang mengharamkan umat muslim berpuasa adalah hari Tasyrik.


Pada tanggal 10 Dzulhijah, para jemaah haji yang melakukan ibadah haji tengah melakukan lempar jumrah. Lempar jumrah adalah salah satu ritual keagamaan yang harus dilakukan oleh para jemaah Haji. Lempar jumrah dilaksanakan di Kota Mina.


Pada ritual keagamaan ini, para jemaah haji diwajibkan untuk melempari tiga buah tiang yang terbuat dari batu dengan menggunakan batu. Ketiga tiang batu itu melambangkan iblis yang memang harus dihukum. Acara lempar jumrah itu merupakan acara ritual puncak yang dilakukan oleh para jemaah haji dalam rangkaian ibadah hajinya.

Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia

 

Begitu strategisnya kepulauan Indonesia sehingga banyak dari negara-negara lain mengunjungi negeri ini dengan tujuan untuk berdagang. Tapi lama-kelamaan tidak hanya untuk berdagang. Banyak penduduk asing yang mulai menetap di negara ini. Selain itu, mereka juga menyebarkan ajaran agama salah satunya adalah agama Islam.


Islam masuk ke wilayah Indonesia pada abad ke-7 Masehi,  dibawa oleh para pedagang Muslim yang berlayar dan singgah di negeri ini. Mereka adalah para pedagang Muslim asal Arab, Melayu, Persia serta India. Berawal dari sinilah sejarah perkembangan Islam di Indonesia dimulai. 


Penyebaran Islam di Indonesia 


Pada zaman dahulu, para pedagang menyebarkan Islam dengan berbagai cara tetapi tidak ada unsur paksaan di dalamnya. Adapun penyebaran agama Islam di Indonesia adalah sebagai berikut.


1. Melalui Perdagangan


Islam masuk ke Indonesia melalui perdagangan yang dibawa oleh para pedagang Muslim yang telah lama melewati jalur pelayaran Indonesia. Selain mencari keuntungan duniawi, mereka juga mencari keuntungan rohani dengan berdakwah menyebarkan agama Islam di Indonesia.


Apalagi setelah adanya kerajaan Islam seperti kerajaan Malaka dan Samudera Pasai. Jalan untuk menyebarkan agama Islam semakin mudah dan semakin luas karena para pedagang Arab bisa mendatangkan para ulamanya unuk berdakwah di negeri ini. 


2. Budaya


Melalui budaya inilah Islam disebarkan. Pada zaman dahulu banyak warga yang menggunakan sarana-sarana kebudayaan tetapi yang bersifat menyesatkan dan tidak sesuai dengan syariat Islam. Terkadang media ini dijadikan sebagai media penyembahan terhadap dewa-dewa.


Atas dasar dan inisiatif dari para wali Songo, media ini dijadikan sebagai alat menyebarkan agama Islam. Salah satunya melalui pertunjukan wayang kulit dan kesenian tradisional seperi jalungan, jamuran, ilir-ilir, dan cublak suweng. 


3. Pendidikan


Cara menyebarkan Islam di Indonesia pada zaman dahulu adalah melalui pendidikan. Pada saat itu, penyebaran diawali dengan membangun pesantren. Pembangunan pesantren ini dianggap sebagai sarana yang efekif untuk menyebarkan agama Islam.


Para da’i dan mubalig yang mengenyam pendidikan di pesantren akan dipersiapkan unuk berdakwah ke seluruh pelosok Nusantara. Strategi ini berhasil, misalnya tokoh alumni pesantren, Dauk Ribandang yang berhasil mengIslamkan kerajaan Gowa dan Tallo. Sampai sekarang pesantren terbukti sebagai sarana yang efektif untuk penyebaran agama Islam.


4. Kekuasaan Politik


Banyaknya kerajaan Islam di Indonesia membuat penyebaran Islam mendapatkan dukungan dan perlindungan dari para sultan dan raja-raja di seluruh Nusantara. Dukungan tersebut mengalir dari sultan Demak, Raja Gowa Tallo, serta raja di kerajaan Samudra Pasai.


Tokoh Penyebaran Agama Islam 


Awal mula penyebaran agama Islam dilakukan oleh para Wali Songo, antara lain adalah:

Sunan AmpelSunan BonangSunan MuriaSunan Gunung JatiSunan KalijagaSunan GiriSunan KudusSunan DrajatSunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)

Perkembangan Islam di Nusantara


Berkat para Wali Songo inilah Islam bisa tersebar di seluruh pelosok Indonesia, antara lain di daerah :


Sumatera


Islam berkembang di Sumatera ditandai dengan adanya kerajaan Islam pertama yaitu Kerajaan Samudera Pasai. Raja pertamanya adalah Sultan Malik Al-Saleh.


Jawa


Penyebaran agama Islam di pulau ini sangatlah berkembang pesat. Hal ini disebabkan para wali Songo mayoritas berasal dari Pulau Jawa. Penyebaran agama Islam di pulau ini sudah terjadi sejak abad ke-7 M oleh sahabat nabi yang bernama Muawiyah bin Abi Sufyan. 


Sulawesi


Sejak pertama kali bangsa Portugis masuk ke daerah Sulawesi pada 1540 sudah banyak pemukiman Muslim di beberapa tempat. Sulawesi memiliki kerjaan Islam yang bernama Kerjaan Gowa dan Tallo. Adanya kerajaan ini menandakan Islam berkembang pesat di Sulawesi. 


Kalimantan


Islam masuk ke daerah ini melalui tiga jalur, yang pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam. Jalur kedua melalui para mubalig yang datang dari pulau Jawa. Jalur ketiga melalui mubalig asal Sulawesi yang bernama Datuk Ribandang yang merantau ke daerah ini.  


Maluku


Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah terbanyak. Hal inilah mengundang para pedagang Muslim untuk mengunjungi daerah ini. Islam masuk ke Maluku pada pertengahan abad 15. Kerajaan Muslim terbesar di Maluku adalah Ternate dan Tidore.  


View the original article here

Urgensitas Mempelajari Tarikh dan Peradaban Islam

Tarikh dan peradaban Islam adalah dua warisan yang sangat berharga bagi kaum muslim. Kedua warisan tersebut menjadi bukti-bukti kejayaan dan keberhasilan Islam di masa lalu. Kedua warisan tersebut juga bisa menjadi motivasi untuk kembali membangun pribadi yang mirip seperti tokoh sejarah yang dikenal di dalam tarikh. Tokoh yang ikut menciptakan kejayaan peradaban Islam.

Tarikh adalah sejarah. Di dalam sejarah pasti ada peradaban. Karena itu, di dalam sejarah Islam pasti ada peradaban yang mesti dikaji dan terus dikaji. Namun, pengkajian yang dilakukan bukan untuk sekedar mengenang tarikh dan peradaban Islam di masa lalu. Tapi bisa menjadi cerminan bagaimana mendesain kejayaan peradaban Islam saat itu bisa dibentuk saat ini.


Empat Hal penting Mengkaji Tarikh dan Peradaban Islam

Tak sedikit orang malas untuk mengkaji tarikh dan peradaban Islam. Alasannya, selalu klise. Apa yang diungkap di tarikh dan peradaban Islam selalu berkaitan dengan kehebatan para sahabat di dalam menyebarkan Islam. Sehingga, memiliki nuanasa peradaban yang baik. Sedangkan saat ini, tugas yang diemban umat bukanlah seperti tugas para sahabat tersebut.

Adalah kesalahan besar jika berpikir demikian. Mempelajari dan mengkaji tarikh dan peradaban Islam sungguh hal yang harus bagi setiap muslim. Pasalnya, apa yang dihasilkan mereka hingga menciptakan peradaban Islam yang menakjubkan bisa memberi nuansa lain jika disikapi dengan baik. Paling tidak ada empat hal yang ditemukan:

Menambah Wawasan

Dengan mengkaji sejarah dan peradaban Islam Anda akan memiliki wawasan yang luas. Wawasan mengenai beragam proses yang terjadi. Proses kemenangan dalam berperang. Proses  bagaimana Islam membangun peradaban pendidikan seperti di masa bani Abbasiyah.

Di masa ini pula umat Islam menyaksikan kejayaan Islam dengan diterjemahkannya buku-buku kono milik peradaban sebelum Islam. Di masa ini pula Anda akan menyaksikan betapa gerakan membukukan ilmu-ilmu agama mulai dilakukan yang selama ini hanya disampaikan dengan cara oral.

Mempelajari karakter tokoh-tokoh sukses

Dengan mengkaji sejarah dan peradaban Islam Anda menemukan tokoh-tokoh yang layak jadi panutan. Misalnya saja Khalifah al-Mansur di masa Bani Abbasiyah. Dia adalah tokoh yang layak ditiru. Di masa mudanya ia habiskan dengan bergelut dengan ilmu pengetahuan. Sehingga saat ia menjadi khalifah, pendidikan menjadi point terpenting yang diunggulkan dan diselamatkannya.

Ia menyakini pendidikan yang menjadi pilar kemajuan Islam. Pendidikan tak akan habis ditelan masa. Makanya, di saat ia menjadi khalifah digagasnya dikumpulkannya para penterjemah dan penulis buku untuk menciptakan karya yang bermanfaat untuk umat.

Ilmu yang ditemukan saat ini merupakan hasil dari usaha khalifah al-Mansur membangung peradaban Islam dengan pendidikan. Makanya, mempelajari sejarah dan peredaban Islam akan menghantarkan Anda untuk meniru pergerakan tokoh-tokoh sukses seperti khalifah al-Mansur.

Menciptakan desain hidup yang mampu merubah

Dengan mempelajari sejarah dan peradaban Anda sebenarnya sedang belajar bagaimana menjadi pribadi yang mampu merubah hidup menjadi lebih baik baik. Anda harus bisa mendesain hidup yang menyenangkan seperti apa yang terungkap di dalam sejarah.

Peradaban Islam tidak akan terbangun tanpa ada pribadi-prabadi yang mendesain hidupnya untuk perubahan. Perubahan yang dilakukannya menciptakan perubahan yang bermanfaat bagi khalayak ramai.

Anda lihat di dalam peradaban Islam di masa Abbasiyah. Ini adalah masa perabadan Islam terbaik. Perabadan ini tak akan tercipta tanpa adanya desain hidup yang mengingingkan kebaikan yang terjadi pada pribadi tokoh-tokoh masa itu. Bukan hanya al-Mansur saja yang mengingingkan terciptanya peradaban yang cermelang. Tokoh-tokoh yang lain juga, misalnya gerakan para penterjemah buku-buku kuno saat itu.

Menyimak kebahagian pasca kesuksesan

Dengan mempelajari sejarah dan peradaban Anda akan melihat hasil apa yang dicapai oleh mereka yang telah menciptakan kesuksesan. Oleh karena itu, ilmu yang berharga dari mempelajari sejarah dan peradaban adalah menyaksikan hasilnya dan ‘bermimpi’ untuk menciptakan peradaban Islam yang lebih baik dengan menciptakan desain hidup yang mampu memberi perubahan pada agama Islam.

Inilah empat hal yang paling urgen bagi umat Islam dari mengkaji sejarah dan peradaban Islam. Tak ada umat Islam yang menginginkan Islam tak berjaya lagi. Tapi alangkah anehnya jika ingin meraih kejayaan kita tidak belajar dari proses sejarah dan peradaban Islam.


View the original article here

Mengenal Al Islam Lebih Dekat

Al Islam adalah agama yang dibawa para Nabi dan Rasul  Allah SWT dari Adam as. Sampai Rasulullah SAW sebagai risalah petunjuk hidup untuk seluruh manusia, bagi kebahagiaannya di dunia dan akhirat. Al Islam merupakan karunia  Allah Azza wa Jalla yang diturunkan di muka bumi ini dengan ridho-Nya untuk menuntun manusia menghadapi semua problematika dalam kehidupannya.

Persoalan yang sering timbul adalah justru diantara manusia masih ada juga yang ragu apakah Al Islam sebagai dien ini mampu menyelesaikan berbagai problematika yang melingkupi kehidupannya ataukah Al Islam hanya merupakan bagian kecil dalam kehidupan manusia sebagai sebuah pelaksanaan ibadah ritual saja ? atau bahkan hanya sekedar formalitas saja, yang penting telah memeluk Islam di tengah mayoritas masyarakat Muslim. Tanpa merasakan dan menikmati apa yang telah diyakini keluhuran dan kebenarannya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat muncul ke permukaan akibat ketidaktahuan manusia tentang ajaran Al Islam itu sendiri. Mereka memandang Islam hanya dari kulitnya saja atau sebagian isinya secara parsial bukan secara keseluruhan ( kaffah ), sehingga muncul dalam dirinya keraguan sebelum dia sendiri melaksanakan Al Islam.

Untuk bisa memecahkan permasalahan ini  maka dibutuhkannya pemahaman Islam secara kaffah, shahih (benar ) dan wadhih (jelas) serta syumul (integral). Upaya pemahaman ini perlu juga diiringi dengan niat yang ikhlas untuk mengkaji Al Islam dari hal-hal yang mendasar yang dibarengi dengan aplikasi yang nyata tidak sekedar teori semata.

Hal-hal mendasar yang dimaksud adalah :

Memahami makna Al IslamMemahami ciri khas dinul IslamMemahami isi kandungan Dinul IslamBeberapa aspek keyakinan seorang muslim terhadap Islam


Makna Al Islam

Pada kalimat Dinul Islam makna dien itu sendiri memiliki beberapa pengertian diantaranya :

Tunduk
Firman Allah SWT yang artinya “ … kalau mereka berpaling kamu katakanlah (kepadanya) saksikanlah bahwa kami adalah muslimun (orang-orang yang tunduk menyerahkan diri kepada Allah “ ( QS. Ali Imran : 64 )Kekuasaan
Sabda Rasullullah SAW : “ orang yang pintar adalah orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya dan bekerja untuk hari setelah kematiannya “Balasan
“ yang menguasai hari pembalasan “ ( QS. 1 : 4 )Undang-undang atau peraturan
Sebagaimana firman Allah SWT pada surat yusuf : 76. Dan sayyid Qutub berkata dalam tafsirnya : sesungguhnya nash ayat ini memberikan batasan yang mendetail tentang makna dien bahwa makna kalimat Dienul Malik dalam ayat ini berarti peraturan dan syariat Sang Malik (raja).

Selanjutnya Al-Quran mengungkapkan bahwa peraturan dan syariat adalah dien. Maka barang siapa yang berbeda pada peraturan dan syariat Allah berarti ia dalam dien Allah. Sebaliknya barang siapa yang berbeda pada peraturan seorang raja berarti ia dalam dien raja tersebut.” Dengan demikian dinul Islam secara bahasa mengandung makna tunduk dan menyerah, keselamatan, damai.


Demikianlah Islam berarti tunduk dan menyerahkan diri karena setiap muslim wajib tunduk dan patuh menyerahkan diri sepenuhnya kepada ketentuan Allah SWT. Ia juga berarti keselamatan dan kedamaian sebab orang yang telah memeluk dinul Islam dan mengerjakan tuntunannya akan selamat di dunia dan akhirat serta akan mendapatkan keselamatan dan kedamaian sejati.

Sedangkan secara istilah, Islam adalah tunduk dan menyerah kepada Allah baik lahir maupun batin dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya kemudian lafadz Islam digunakan sebagai nama dari dien dan peraturan yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW dan Allah menerangkan bahwa siapa saja yang mencari dan selain Islam tidak akan diterima amal dan perbuatannya dan di akhirat termasuk orang-orang merugi.

Ciri Khas Dienul Islam

Ada beberapa ciri khas dinul Islam yaitu :

Rabbaniyah
Rabbaniyah sumbernya Islam bersumber dari Allah SWT, bukan dari manusia. Rabbaniyah tujuannya maksudnya adalahtujuan pertama dan terakhir dien Islam adalah agar manusia menyembah Allah semata ( QS. Adz Dzariyat : 56 ).Insyaniah Alamiyah ( Kemanusian dan Universal )
Maksudnya adalah bahwa dien Islam sesuai dengan fitrah kemanusiaan serta diturunkan sebagai petunjuk untuk seluruh manusia bukan khusus suatu kaum atau golongan walaupun awalnya diturunkan di tanah Arab, bisa diliat ( QS. Al-Anbiyaa : 107 dan Al-Araf : 158 )Syumuliyah ( Lengkap )
Maksudnya adalah bahwa hukum dan ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Tidak ada pekerjaan baik yang kecil maupun yang besar sekalipun kecuali Islam telah menerangkan hukumnya.Al Basathah ( Mudah )
Yang dimaksud mudah bahwa ajaran Islam mudah untuk dikerjakan tak ada kesulitan sedikitpun sebab Islam tidak membebankan manusia suatu kewajiban kecuali sebatas kemampuannya.Al adalah ( keadilan yang mutlak )
Tujuan dien Islam adalah menegakan keadilan yang mutlak dan mewujudkan persaudaraan dan persamaan di tengah kehidupan manusia serta memelihara jiwa, kehormatan, harta, akal dan dien mereka.Tawazun ( keseimbangan )
Dienul Islam dengan seluruh ajarannya menjaga keseimbangan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum antara jasad dan ruh antara dunia dan akhirat. Maka kita lihat di antara ajaran Islam adalah  “ apabila maslahat pribadi berbenturan dengan kepentingan umum kaum muslimin, maka yang didahulukan adalah kepentingan umum “.

Dalam keseimbanagan antara kebutuhan ruhiyah dan jasadiyah, Nabi SAW bersabda bahwa “ sesungguhnya badanmu memiliki hak atasmu, jiwamu memiliki hak atasmu dan keluargamu memiliki hak atasmu maka berikanlah setiap yang punya hak-haknya”.

Perbedaan antara tsabat (kokoh/tetap) dan murunah ( dapat berubah)
Maksudnya tsabat pada pokok-pokok dan tujuan, murnah pada cabang sarana dan cara-caranya, sehingga dengan sifat murnahnya dien Islam dapat menyesuaikan diri dan dapat menghadapi perkembangan jaman serta sesuai dengan segala keadaan yang baru timbul di tengah-tengah masyarakat.


Isi kandungan Dienul Islam

Secara umum kandungan Islam dapat dibagi kepada tiga bagian :

Pokok dan pondasi
Terdiri atas Aqidah yang mencakup dua kalimat syahadat dan rukun Iman yang enam, serta ibadah mahdhah yaitu shalat, zakat, puasa dan haji. Rasulullah SAW bersabda “ Islam didirikan atas lima asas pokok, bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat, shaum di bulan ramadhan dan menunaikan haji bagi yang mampu” ( HR. Bukhari dan Muslim).Bangunan
Hal ini terlihat pada aspek kehidupan seperti pada :
Sistem sosial kemasyarakatan hukum yakni : zakat, waris, waris dan menegakan hukum yang adil dan persaudaraan. Sistem akhlak yakni : berbuat kebaikan, jujur dan memaafkan. Sistem perekonomian yakni : utang piutang, pegadaian, pengharaman riba dan penghalalan jual beli. Sistem politik : pemerintahan, perdamaian, hukum dan pidana. Sistem pengajaran yakni : mengajar dengan lemah lembut, memberi nasihat dan lainnya.Mendukung dan menopang
Islam tidak bisa berdiri kecuali bila terdapat fondasi dan Islam belum berdiri sempurna bila bangunannya belum berdiri .  Sedangkan bangunan tidak akan berdiri tegak bila tidak ada penopangnya.


Aspek keyakinan seorang Muslim terhadap Islam

Islam merupakan wahyu AllahIslam adalah dinul HaqIslam adalah agama yang lurusIslam adalah agama yang bersih yakni : bersih dari syirik, bersih dari kesalahan, dan kekurangan bersih dari campur tangan manusia dan hawa nafsu.Islam adalah satu-satunya Agama Allah dan Allah tidak akan menerima agama selain Islam.

Demikian betapa lengkap konsep Al Islam tinggal bagaimana kita mengimplementasikan atau mengamalkan dalam kehidupan kita sehari-hari yang merupakan bekal hidup kita menuju kehidupan yang abadi di akhirat.


View the original article here

Kedudukan Muslimah dalam Islam

 

Bagaimana sebenarnya kedudukan perempuan atau muslimah dalam Islam? Berdasarkan hadis nabi, perempuan adalah harta terindah di dunia, seolah semua makhluk yang hidup di tempat fana ini berpusat kepadanya. Dengan keindahan dan kelembutannya, perempuan memang memainkan peran penting dalam kehidupan. Bahkan, dalam tataran tertentu, kehidupan sebuah kelompok bisa dilihat dari perempuan.


Jika perempuan tersebut baik dan diperlakukan dengan baik pula, kelompok tersebut, baik berupa keluarga (lingkup masyarakat terkecil) hingga negara (lingkup masyarakat terbesar), merupakan kelompok baik. Sebaliknya, jika perempuan merendahkan diri dan/atau direndahkan oleh kelompoknya, jelas kelompok tersebut sangat bermasalah.


Perempuan Zaman Jahiliyyah


Pada zaman Jahiliyyah, kedudukan perempuan sangat rendah. Hal ini dicatat oleh Bashiruddin Mahmud Ahmad dalam Riwayat Hidup Rasulullah SAW sebagai berikut.


“Wanita tak mempunyai kedudukan dan hak dalam masyarakat Arab ini. Di antara mereka, ada yang beranggapan bahwa membunuh anak perempuan adalah perbuatan terhormat... Macam-macam cara dilakukan guna pembunuhan bayi perempuan itu, di antaranya mengubur hidup-hidup atau dengan jalan mencekik.”


Perempuan dalam Islam


Islam memiliki terobosan penting dengan menyerukan persamaan hak perempuan dan laki-laki. Misalnya, dalam menuntut ilmu, ada ucapan nabi, “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah." Artinya, tidak ada dominasi lelaki terhadap pengetahuan atau upaya mengasingkan perempuan dari ilmu. Semua muslim setara di depan pengetahuan. Kasus tersebut hanyalah sebuah contoh.


Dalam praktik sehari-hari, nabi begitu terbiasa menyayangi istri-istri beliau. Dalam Kimia Kebahagiaan, Al-Ghazali mencatat perilaku nabi terhadap istri-istri beliau sebagai berikut, “Nabi Muhammad SAW sendiri selalu menanggung dengan sabar tingkah laku istri-istrinya." Saking halusnya perangai nabi, istri-istri beliau dengan bangga mengisahkan hal ini kepada istri-istri sahabat sehingga istri para sahabat “iri”.


Alkisah, suatu hari istri Umar bin Khattab marah dan mengomeli sahabat nabi tersebut. Melihat istrinya marah, padahal dalam adat Jahiliyyah sudah selayaknya istri tunduk buta pada suami, Umar berkata kepada istrinya, "Hai kau yang berlidah tajam, berani kau menjawabku?"


Istrinya Istri Umar menjawab, "Ya, penghulu para nabi lebih baik daripadamu, sedangkan istri-istrinya saja mendebatnya." Umar terperanjat mendengar ini. Ia buru-buru berkata, "Celakalah Hafshah jika ia tidak merendahkan dirinya sendiri."


Maksudnya, sudah sepantasnya istri nabi sangat patuh kepada suami yang tidak tega memarahi istri. Padahal, nyaris semua suami mudah membentak, memaki, atau kadang memukul istri pada zaman tersebut. Umar ingin agar Hafshah yang mendapat anugerah luar biasa, diperlakukan sang suami dengan begitu mulia, harus memperlakukan sang suami dengan cara lebih mulia lagi.


Oleh karena itu, ketika berjumpa Hafshah, Umar berkata, "Awas, kau jangan mendebat Rasul!” Perilaku Nabi Muhammad SAW yang bertentangan dengan adat Jahiliyyah ini (dan kadang juga bertentangan dengan adat yang kita anut sekarang) menggambarkan betapa vitalnya masalah perempuan dalam sebuah umat.


View the original article here

Syarat Pernikahan Islam

Pernikahan Islam adalah sebuah prosesi pernikahan yang dilakukan dengan menggunakan hukum Islam sebagai landasannya. Tentu saja, yang terikat dalam hukum pernikahan ini hanyalah mereka yang beragama Islam saja. Sedangkan orang-orang yang tidak beragama Islam, tidak memiliki keterikatan atas peraturan yang digunakan dalam pernikahan ini.

Di Indonesia prosesi pernikahan Islam ini dikenal juga dengan pernikahan siri. Pengertian dari pernikahan siri ini adalah pernikahan yang hanya sah secara hukum agama, namun belum diakui oleh negara. Sebab pernikahan ini belum dicatat dalam lembaran surat resmi yang dikeluarkan oleh negara melalui departemen agama khususnya Kantor Urusan Agama atau KUA.

Dalam proses pernikahan Islam, tidak dikenal beberapa istilah yang kerap digunakan dalam berbagai acara pernikahan. Seperti misalnya kegiatan tukar cincin, atau juga tradisi seserahan yang banyak dilakukan masyarakat Indonesia. Sebab, dalam Islam semua hal tersebut tidak memiliki makna penting dan justru lebih condong pada proses riya’ atau pamer yang mendorong persaingan di antara masyarakat satu dan lainnya.


Syarat Pernikahan Islam

Islam merupakan agama yang memberikan kemudahan bagi penganutnya. Demikian pula dalam masalah pernikahan. Islam tidak memberikan kewajiban yang memberatkan bagi umatnya yang hendak menyempurnakan ibadah mereka melalui proses pernikahan Islam.

Di dalam pernikahan Islam, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar tercipta unsur sah pada pernikahan itu. Beberapa syarat sah dalam pernikahan Islam tersebut di antaranya adalah :

Adanya mempelai pria sebagai pihak yang akan mengucapkan ijab. Keberadaan mempelai pria ini harus ada secara fisik serta tidak dapat diwakilkan dengan alasan apa pun juga. Syarat ini diberikan sebagai upaya untuk melindungi hak kaum perempuan agar tidak dipermainkan oleh kaum laki-laki. Adanya wali dari mempelai wanita. Wali ini dimaksudkan sebagai pihak yang memiliki hak untuk menikahkan kedua mempelai dan menerima ijab kabul dari mempelai pria. Saksi. Saksi adalah pihak yang memberikan kesaksian dalam proses pernikahan dan memiliki hak untuk menentukan apakah sebuah pernikahan tersebut sah atau tidak berdasar hukum agama Islam. Mahar. Mahar merupakan sebuah bingkisan yang diberikan pihak laki-laki kepada mempelai perempuan sebagai tanda mata.  Adanya ucapan ijab kabul yang disampaikan oleh wali nikah kepada mempelai pria.

View the original article here

Makalah Agama Islam, Ukhuwah Islamiyah

 

Makalah agama Islam banyak membahas berbagai kajian seputar permasalahan tentang Islam yang dikaitkan dengan pelaksanaan kehidupan bermasyarakat. Hal ini merupakan sebuah keuntungan bagi masyarakat yang hendak mencari informasi tentang sebuah permasalahan yang mereka hadapi, terutama jika dikaitkan dengan kehidupan beragama. Islam.


Dalam sebuah makalah agama Islam, permasalahan yang muncul di tengah masyarakat akan dibahas secara menyeluruh. Kajian yang dilakukan pun menggunakan sudut pandang agama yang berbasis pada Al Qur’an dan hadits Nabi. Dengan demikian, kita akan bisa mendapatkan penjelasan yang lengkap tentang sebuah masalah, yang disertai landasan hukum atas penyelesaian masalah tersebut.


Salah satu tema yang diangkat dalam makalah agama Islam adalah tentang ukhuwah Islamiyah. Pengertian dari Ukhuwah Islamiyah sendiri adalah persaudaraan di dalam Islam, yang meliputi hubungan antar sesama umat Islam. Dalam hal ini, setiap umat Islam adalah bersaudara sebagai keluarga besar Islam. Oleh karenanya, setiap umat Islam harus bisa saling menjaga umat Islam lainnya.


Setiap umat Islam diwajibkan untuk saling membantu satu sama lain dalam hal kebaikan. Mereka harus saling mengingatkan apabila ada sesama muslim yang hendak berbuat di luar koridor agama. Kedua hal ini merupakan sebuah kondisi yang sangat obyektif untuk dilakukan. Dimana dalam hal kebaikan maka umat Islam harus saling membantu, namun dalam hal keburukan wajib untuk mengingatkan.


Nilai Penting Ukhuwah Islamiyah


Ukhuwah Islamiyah adalah salah satu perintah dalam agama Islam. Sebab, dengan membina ukhuwah Islamiyah, maka akan didapat beberapa keutamaan yang terkait dengan masalah syiar agama Islam dan kesejahteraan umat itu sendiri.


Beberapa nilai penting ukhuwah islamiyah ini diantaranya adalah :

Meningkatkan persatuan umat Islam sehingga tidak mudah dipecah belah oleh kekuatan yang ingin menghancurkan Islam.Dengan Ukhuwah Islamiyah, menjadi salah satu media untuk menciptakan kebaikan pada sesama umat Islam serta menghindarkan dari hal-hal yang negatif.Menghindarkan terjadinya penyimpangan akidah, khususnya dari ajaran sesat yang ingin menciptakan kekacauan pada umat Islam.Meningkatkan kesejahteraan umat. Salah satunya dengan cara pengoptimalan potensi zakat untuk menciptakan sistem ekonomi yang maju dan sesuai kaidah Islam. Sebagai media dakwah untuk menyampaikan hal-hal yang benar tentang agama Islam. Sehingga pada nantinya tidak ada kesalahan dan perbedaan sudut pandang dalam agama Islam. Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

Mesjid Sebagai Tempat Ibadah dan Sentra Kegiatan Islam

 

Mesjid merupakan tempat ibadah shalat berjamaah lima waktu bagi ummat Islam. Di wilayah atau Negara  yang mayoritas muslim, sangatlah mudah ditemukan mesjid. Di samping fasilitas untuk mempermudah masyarakat untuk melaksanakan shalat berjamaah juga kadang mesjid dijadikan tempat berkumpulnya ummat muslim dalam bermusyawarah baik masalah agama maupun masalah sosial kemasyarakatan lainnya.


Pada dasarnya membangun dan mendirikan mesjid sangatlah mudah ,tetapi sesungguhnya  tidak ada faedahnya bahkan sia-sia  jika mesjid itu dibangun / didirikan tetapi tidak ada orang yang mengisinya atau memakmurkan mesjid tersebut. Selain itu, jika bangunan mesjid itu tidak ada yang memakmurkannya, maka bangunan tersebut akan cepat rusak karena tidak ada yang merawatnya. Juga mesjid akan menjadi kosong dan sepi manakala tidak ada orang yang memakmurkannya, karena sepi dari berbagai kegiatan peribadahan seperti shalat berjamaah, pengajian, dan lain-lain.     


Memakmurkan mesjid bukannya berarti agar mesjid itu menjadi makmur dalam segi materialnya saja,melainkan mesjid itu tampak bersih, bagus, indah dan nyaman sehingga mesjid tersebut sangat hidup dari berbagai aktivitas sosial, keagamaam khususnya. Mesjid juga harus dikemas sedemikian rupa untuk segala kegiatan-kegiatan spiritual.  Sehingga dengan demikian menunjukkan bahwa mesjid benar-benar berfungsi sebagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan Islam.


Untuk memakmurkan mesjid yang mereka dirikan merupakan tanggung jawab ummat Islam pada umumnya, Allah SWT berfirman :


“ sesungguhnya yang memakmurkan Mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir,  mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta tidak takut kecuali kepada Allah SWT, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk. “ (QS.At-taubah:18).


Oleh sebab itu dalam rangka memakmurkan mesjid ummat Islam hendaknya melaksanakan berbagai  usaha antara lain :

Kegiatan pembangunan
Bangunan mesjid hendaklah dipelihara dengan sebaik-baiknya misalkan kalau ada material mesjid yang rusak hendaklah cepat-cepat diperbaiki atau diganti dengan yang baru. Kalau bisa yang lebih baik, dan apabila mesjid dalam keadaan kotor cepat-cepatlah dibersihkan dan dipelihara keindahannya sehingga mesjid tersebut tampak lebih bagus, indah, nyaman dan bersih. Hal ini menunjukkan bahwa mesjid tersebut makmur dalam segi material.

Apabila dalam lingkungan masyarakat terdapat mesjid yang selalu terpelihara kenyamanan dan keindahannya maka secara tidak langsung menunjukan masyarakat tersebut masyarakat yang peduli  dan masyarakat yang memahami dan mengamalkan ilmunya.  Begitu sebaliknya apabila mesjid itu tidak terpelihara tampak kotor, rusak, jorok dan bau, itu menunjukan bahwa tingkat kepedulian masyarakat terhadap mesjid itu kurang. Tentunya mesjid tersebut tidak ada yang memakmurkanya dan masyarakat yang ada di sekitarnya rendah tingkat kepedulian dan pemahamannya. Tentunya hal tersebut yang patut kita hindari karena ummat islam umat yang cinta kebersihan dan keindahan.

Kegiatan Ibadah
Kegiatan ini meliputi shalat berjamaah lima waktu, shalat jumat dan shalat tarawih di bulan ramadhan. Shalat berjamaah ini sangatlah penting artinya dalam menjalin silaturahmi mewujudkan ukhuwah islamiyah di antara sesama ummat Islam yang menjadi jamaah mesjid itu karena dengan shalat berjamaah dapat saling bertemu satu dengan yang lainnya. Apalagi shalat dalam sehari ada lima waktu berarti banyak sekali kesempatan untuk saling menyapa, saling berkomunikasi bahkan saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

Disamping itu juga banyak kegiatan-kegiatan lainnya berdzikir, berdoa, beri’tiqaf, mengaji Al-quran, berinfaq, bersedekah dan berzakat,  yang kesemua aktifitas tersebut dilakukan di mesjid. Infaq dan sedekah sangatlah penting artinya, terutama untuk keperluan membiayai pemeliharaan mesjid dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dilakukan di dalam mesjid tersebut seperti perawatan fasilitas kebutuhan mesjid misalkan pengadaan mushaf Al-Quran, karpet / sajadah, bayar listrik dan lain-lain. Karena setiap perbuatan ibadah ini lebih utama dilakukan di dalam mesjid ketimbang dilakukan di rumah disamping untuk meningkatkan amal ibadah juga dalam usaha memakmurkan mesjid tersebut.

Kegiatan keagamaan
Kegiatan ini merupakan kegiatan pengajian rutin yang biasanya dilaksanakan oleh dewan keluarga mesjid (DKM). Kegiatan kajian ini berfungsi untuk meningkatkan kualitas keimanan juga dalam rangka memahami betul-betul ajaran agama Islam. Biasanya kegiatan-kegiatan keagamaan yang diprogramkan oleh dewan keluarga mesjid adalah peringatan hari-hari besar Islam (bersejarah), kursus-kursus keagamaan seperti kursus bahasa arab, dakwah, manasik haji, kursus mubaligh, pelatihan mengurus jenazah, dan bimbingan keagamaan lainnya seperti kajian pra nikah, kajian fiqih dan juga pengsyahadatan orang yang mau masuk Islam, upacara pernikahaan dan lain-lain. Kegiatan tersebut dilakukan di mesjid disamping mensyiarkan agama Islam juga bertujuan untuk memakmurkan mesjid tersebut.Kegiatan pendidikan
Pada umumnya mesjid-mesjid jami sekarang selalu diadakan kegiatan-kegiatan pendidikan seperti adanya madrasah diniyah, madrasah iftidaiyah, bahkan sampai ke tingkat pendidikan yang formal seperti madrasah tsanawiyah dan madrasah aliyah. Ini merupakan wujud dari ikut sertanya mesjid-mesjid dalam mencerdaskan ummat dan bangsa. Kegiatan pendidikan ini meliputi formal dan informal. Pendidikan formal ini misalnya mendirikan sekolah atau madrasah di mesjid.

Dengan adanya sekolah dan madrasah ini di samping dapat mendidik anak juga mengajarkan nilai-nilai agama islam kepada anak-anak sejak dini. Pendidikan formal dan informal juga seperti melaksanakan agenda pesantren kilat yang biasanya dilaksanakan di masa-masa anak-anak sekolah pada libur nasional, libur bulan puasa dan libur kenaikan kelas. Bentuk kegiatan ini biasanya dipelopori oleh para remaja mesjid mereka biasanya memiliki agenda-agenda khusus untuk remaja seperti diskusi keagamaan, pergaulan remaja islam dan lain-lain.

Kegiatan-kegiatan lainnya
Kegiatan-kegiatan lain dalam usaha memakmurkan mesjid perlu dilaksanakan seperti kegiatan-kegiatan sosial lainnya seperti bakti sosial, menyantuni fakir miskin dan yatim piatu, kegiatan olahraga, beladiri, kesenian Islami, keterampilan, perpustakaan, penerbitan buku, penerbitan bulletin dan lain-lain. Namun satu hal yang perlu diingat, kegiatan transaksi jual beli dilarang dilakukan di dalam mesjid.

Sesungguhnya berdasarkan pesan Al-Quran Surat At-taubah ayat 18; Dewan keluarga Mesjid (DKM) dan anggota remaja mesjid mempunyai tanggung jawab yang sama dengan kaum muslimin pada umumnya dalam tugas memakmurkan mesjid. Hal ini disebabkan mereka yang bergabung dalam DKM atau para remaja mesjid merupakan sebagai bagian dari orang-orang mukmin yang disebutkan dalam ayat tersebut.


Kalau kita lihat ke belakang pada masa Rasulullah dan para sahabat, mesjid pada waktu itu mengesankan amat makmur karena mesjid dijadikan sebagai sentral aktifitas dalam pengembangan ajaran Islam. Pada masa itu mesjid bukan hanya dijadikan tempat untuk menunaikan shalat saja melainkan seluruh kegiatan yang ada kaitannya dengan pengembangan dan penyemarakan syiar Islam banyak dibahas dan diselesaikan di dalam mesjid.


Potret ke depan, mesjid di zaman Rasulullah dan para sahabat ini hendaknya bisa dijadikan cermin bagi kaum muslimin untuk mesjid dijadikan sebagai sentral aktivitas dakwah bagi pengembangan syiar Islam, dan kegiatan sosial lainnya. 


Dengan demikian mesjid merupakan tempat segala aktifitas, baik keagamaan maupun tempat kegiatan sosial lainnya. Maka alangkah baiknya jika mesjid dibuat senyaman mungkin. Sebab, dengan lingkungan yang nyaman, rapih dan bersih tentunya sangat mendukung bagi keberlangsungan kegiatan tersebut.

Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

Hadist: Sumber Hukum Umat Islam Setelah Al-Qur�an

 Al-Qur’an adalah pedoman hidup. Segala perintah dan larangan yang telah ditetapkan Allah terangkum jelas dan lengkap dalam Al-Qur’an. Itulah sebabnya, Al-Qur’an berperan sebagai pedoman hidup umat muslim selain sebagai kitab suci umat muslim. Percaya terhadap kitab-kitab Allah termasuk Al-Qur’an  termasuk dalam rukun iman.

Memercayai Al-Qur’an adalah kewajiban umat muslim. Al-Qur’an berisi hukum-hukum ajaran Agama Islam yang wajib hukumnya dipatuhi oleh umat muslim. Selain Al-Qur’an, umat muslim juga memiliki sumber hukum lain yang juga wajib dipatuhi. Sumber hukum dalam agama Islam yang berkedudukan setelah Al-Qur’an adalah hadist.


Secara etimologi, hadist adalah perkataan atau percakapan. Berkaitan dengan ajaran agama Islam, hadist berarti perkataan atau percakapan dan tingkah laku dari Nabi Muhammad saw. Pengertian hadist secara etimologi ini sejalan dengan pengertian hadist menurut para ulama.


Para ulama lebih detail berpendapat tentang hadist. Menurut mereka hadist bukan hanya perkataan atau perbuatan Nabi Muhammad. Hadist menurut mereka adalah juga mencakup tentang taqrir atau ketetapan, sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad saw baik jasmani maupun akhlak, serta cerita selama beliau diangkat menjadi Nabi Muhammad saw.


Pendapat tentang hadist dari para ulama yang seperti itu hampir menyejajarkan hadist dengan sunnah. Perluasan makna yang terjadi pada makna hadist sesungguhnya membuat posisi hadist disamakan dengan sunnah. Semua perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad dijadikan landasan hukum. 


Berdasarkan posisinya dalam kelas kata, hadist bukan lagi termasuk dalam kata infinitif atau kata kerja yang tidak terpengaruh terhadap perubahan waktu, jenis kelamin, dan waktu. Hadist berubah kelas kata menjadi kata benda.


Sebagai sebuah sumber hukum, hadist juga memiliki struktur dalam proses pembentukannya. Dua komponen penting dalam pembentukannya. Pembentukkan hadist meliputi Sanad dan Matan.


Sanad adalah rantai penutur atau periwayat dari hadist tersebut. Sanad ibarat mata rantai penyambung perkataan atau perbuatan Nabi Muhammad saw. Rangkaian sanad dimulai dari para pencatat perkataan atau perbuatan Nabi dalam bukunya, hingga Rasulullah. Sanad merupakan gambaran keaslian riwayat Nabi Muhammad saw.


Contoh rangkaian sanad adalah dari Al-Bukhari ke Musaddad kemudian ke Yahya, dari Yahya ke Syu’bah, dari Syu’bah ke Qatadah, dari Qatadah ke Anas, dari Anas barulah sampai ke Nabi Muhammad saw.


Sebuah hadist bisa memiliki beberapa sanad dengan penutur dan lapisan sanad yang bervariasi. Lapisan sanad disebut juga thaqabah. Jumlah sanad serta jumlah penutur dalam setiap thaqabahsanad adalah penentu tinggi atau rendahnya derajat hadist. Hal yang perlu dipahami dalam Hadist yang berkenaan dengan sanad adalah keutuhan sanad, jumlah sanad, dan periwayat hadist.


Redaksi bukan hanya dibutuhkan oleh buku-buku cetakan biasa. Hadist nyatanya juga membutuhkan redaksi. Istilah redaksi dalam hadist dikenal juga dengan matan. Hal yang harus diperhatikan dalam memahami hadist berkenaan dengan permasalahan redaksional adalah ujung dari sanad atau periwayat harus dipastikan berujung pada Nabi Muhammad saw, matan hadist harus berhubungan dengan hadist lain yang rangkaian sanadnya lebih kuat, pastikan tidak ada yang bertolak belakang dengan Al-Qur’an.


Berdasarkan jumlah sanad, hadist dibedakan dalam lima jenis, yaitu:

Hadist MusnadHadist MursalHadist Munqati’Hadist Mu’dal, dan Hadist Mu’allaq

Berdasarkan jumlah penutur, hadist dibedakan dalam dua jenis, yaitu”

Hadist mutawatir. Hadist ini memiliki jumlah penutur yang cukup banyak. Hadist ini memiliki lebih dari 20 hingga 40 lapisan sanad.Hadist ahad. Hadist ini dituturkan oleh banyak penutur tetapi tidak melebihi jumlah penutur dari hadist mutawatir. Hadist ahad dibedakan menjadi tiga, yaitu hadist Gharib, hadist aziz, dan hadist Mashur.

Selain hadist berdasarkan dua klasifikasi tersebut, sumber hukum umat muslim ini juga dibedakan menjadi sembilan jenis hadist, yaitu:

Hadist MatrukHadist MungkarHadist Mu’allalHadist MudlthoribHadist MaqlubHadist GholiaHadist MudrajHadist SyadzHadist Mudallas Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

Peran Kerajaan Islam

Kerajaan Islam di Indonesia mulai berkembang sejak abad ke 13. Hal ini ditandai dengan berdirinya kerajaan Samudera Pasai yang dianggap sebagai salah satu kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini berdiri di kawasan Pasai, Aceh di pesisir pantai Sumatera.

Pendiri kerajaan Samudera Pasai adalah Marah Silu yang bergelar Sultan Malikus Shaleh. Sultan ini juga sekaligus menjadi raja pertama di Samudera Pasai. Sayangnya, tidak banyak yang sejarah yang bisa digali dari kerajaan ini. Sebab, berbeda dengan jaman kerajaan Hindu-Buddha yang banyak meninggalkan prasasti, Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam tidak mengenal budaya prasasti karena dianggap sebagai sebuah kepercayaan berbau animisme.

Setelah Samudera Pasai, bermunculan beberapa kerajaan Islam lain di tanah air. Di antaranya adalah Kerajaan Aceh yang merupakan kelanjutan dari Samudera Pasai. Kerajaan Aceh berdiri di daerah Aceh, dan hingga kini peninggalannya masih bisa ditemui di kawasan Banda Aceh.

Di tanah Jawa sendiri dikenal salah satu kerajaan Islam terbesar. Kerajaan tersebut berada di kawasan Jawa Tengah, yaitu Kerajaan Demak. Kerajaan Islam ini didirikan oleh Raden Patah. Peninggalan budaya yang ada sejak kerajaan tersebut berdiri salah satunya adalah Masjid Agung Demak yang didirikan oleh Sunan Kalijogo. Keunikan masjid tersebut adalah tiang penyangganya menggunakan potongan-potongan kayu yang disusun sedemikian rupa sehingga menjadi tiang penyangga.


Peran Kerajaan Islam

Dalam perkembangannya, kerajaan Islam ini memiliki peran yang sangat besar dalam proses penyebaran agama Islam di tanah air. Beberapa peran dari kerajaan Islam yang dianggap penting tersebut di antaranya adalah :

Mengenalkan ajaran Islam kepada penduduk di kerajaan tersebut. Hal ini sangat berpengaruh, karena dalam sistem kerajaan, agama pilihan seorang raja pasti akan dianut oleh rakyatnya.
Memudahkan transaksi perdagangan dengan para pedagang dari kawasan Timur Tengah. Pada saat itu, para pedagang dari Gujarat kerap berkelana hingga daerah yang jauh untuk berdagang. Dan dengan adanya kerajaan Islam, maka ada kesamaan budaya dari kedua belah pihak sehingga lebih memudahkan dalam menjalin hubungan.
Mengubah budaya upeti yang banyak digunakan di jaman kerajaan sebelumnya. Sehingga hal ini memberikan kemudahan pada rakyat karena tidak lagi mendapatkan beban membayar upeti kepada penguasa secara berlebihan.
Menciptakan tata kehidupan baru yang lebih sesuai dengan apa yang ada pada ajaran Islam.

View the original article here

Hikmah Pernikahan dalam Islam

 

Menikah Sebagai Ibadah


Di dalam Islam, menikah dikaji secara khusus di dalam bahasan fiqih munakahat (fiqih pernikahan). Di dalam fiqih munakahat, dibahas secara jelas dan terperinci segala hal menyangkut pernikahan. Mulai dari hukum menikah, rukun dan syarat pernikahan, adab mengkhitbah, serta hikmah apa yang terkandung dalam pernikahan itu sendiri.


Pernikahan dalam Islam dikatakan sebagai ibadah. Sebab, untuk mencapainya membutuhkan perjuangan seorang hamba untuk betul-betul mampu menghadapi ujian, yang pasti akan dialami oleh seseorang sebelum menikah. Baik perjuangan menjaga kesucian cinta yang dibangun melalui pernikahan, persiapan mental, maupun persiapan materi menuju jenjang pernikahan.


Sebagai salah satu bagian dari ibadah, maka syaitan amat membenci pernikahan. Mahkluk terkutuk ini lebih suka jika manusia lalai dan takut untuk menikah. Sebaliknya, ia melakukan hal-hal yang dilarang menjelang pernikahan, seperti berzina, pergaulan bebas dan sebagainya.  Oleh sebab itu, pernikahan membutuhkan jihad dan kekuatan yang cukup bagi yang ingin melaksanakannya. Menikah adalah menyempurnakan bagian dari agama yang belum sempurna.


Menikah dalam Islam akan membuka ruang-ruang beribadah yang begitu mudah, baik oleh istri maupun sang suami. Keduanya memiliki kesempatan untuk melakukan pahala yang jauh lebih besar dibanding yang belum menikah. Lantaran ini jugalah syaitan menjadi penghalang nyata bagi seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan.


Ada banyak cara bisikan yang biasa dimunculkan syaitan di hati para pemuda dan pemudi yang belum menikah. Hal yang paling sering dirasakan adalah ketakutan akan kemiskinan, sehingga menjadi alasan yang cukup sering untuk menunda-nunda pernikahan.  


Hikmah Pernikahan


Pernikahan dalam Islam memiliki banyak hikmah. Oleh karena itu, Islam menganjurkan ummatnya untuk menikah dan tidak hidup melajang. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw, yang hidup sebagaimana manusia pada umumnya, hidup menikah dan tinggal bersama orang-orang yang dicintai. Berikut ini beberapa hikmah pernikahan dalam Islam yang bisa diambil pelajaran;


1. Menikah akan meninggikan harkat dan martabat manusia


Lihatlah bagaimana kehidupan manusia-manusia yang secara bebas mengumbar nafsu biologisnya tanpa melalui bingkai halal sebuah pernikahan, maka martabat dan harga diri mereka sama liarnya dengan nafsu yang tak bisa mereka kandangkan. Menikah menjadikan harkat dan martabat manusia-manusia yang menjalaninya menjadi lebih mulia dan terhormat. Manusia secara jelas akan berbeda dengan binatang, apabila ia mampu menjaga hawa nafsunya melalui pernikahan.


2. Menikah memuliakan kaum wanita


Banyak wanita-wanita yang pada akhirnya terjerumus pada kehidupan hitam hanya karena diawali oleh kegagalan menikah dengan orang-orang yang menyakiti kehidupan mereka. Menikah dapat memuliakan kaum wanita. Mereka akan ditempatkan sebagai ratu dan permaisuri dalam keluarga.


3. Menikah adalah cara melanjutkan keturunan


Salah satu tujuan menikah adalah meneruskan keturunan. Pasangan yang shaleh diharapkan mampu melanjutkan keturunan yang shaleh pula, dari anak-anak yang shaleh ini akan tercipta sebuah keluarga shaleh, selanjutnya menjadi awal bagi terbentuknya kelompok-kelompok masyarakat yang shaleh sebagai cikal bakal kebangkitan Islam di masa akan datang.


4. Wujud kecintaan Allah pada makhluk-Nya untuk dapat menyalurkan kebutuhan biologis secara terhormat dan baik.


Inilah bukti kecintaah Allah terhadap makhluk-Nya. Dia memberikan cara bagi makhluk-Nya untuk dapat memenuhi kebutuhan manusiawi seorang makhluk. Di dalam wujud kecintaan itu, dilimpahkan banyak keberkahan dan kebahagiaan hidup yang akan dirasakan melalui adanya pernikahan. Allah menjadikan makhluk-Nya berpasang-pasangan, dan ditumbuhkan padanya satu sama lain rasa cinta dan kasih sayang.


View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan