Sejarah Nabi: Biografi Nabi Ibrahim

 

Ibrahim adalah nabi dalam agama Samawi dan bergelar Khalil Allah (sahabat Allah). Beliau diangkat menjadi nabi pada 1900 SM dan diutus untuk kaum Kaldan di Kota Ur (sekarang bernama Iraq). Di dalam buku berjudul Muhammad Sang Nabi-Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail, disebutkan bahwa nama Ibrahim berasal dari dua suku kata, yaitu ib/ab dan rahim. Kedua kata itu akan membentuk arti “ayah yang pemurah”.


Ibrahim dilahirkan di Faddam, A’ram, kawasan kerajaan Babilonia pada 2.295 SM. Kerajaan Babilonia waktu itu dipimpin oleh seorang raja bengis dan zalim bernama Namrudz bin Kan’aan. Ibrahim adalah salah satu nabi Ulul azmi. Ismail dan Ishaq merupakan putra nabi Ibrahim. Mereka berdua juga di kemudian hari menjadi nabi. Ibrahim juga mempunyai cucu bernama Yaqub.


Raja Namrudz mendapat pertanda bahwa bayi yang akan lahir ini (Ibrahim) menyebabkan Namrudz mati dengan cara dahsyat. Oleh karena itu, Namrudz berencana membunuh semua bayi di tempat itu. Mendengar kabar ini, ibu Nabi Ibrahim ketakutan. Ibu Ibrahim melahirkan di sebuah gua dan bayinya (Ibrahim) ditinggalkan di gua itu. Setelah seminggu, ibunya kembali ke gua dan terkejut melihat Ibrahim masih hidup. Kemudian, Ibrahim dibawa pulang ke rumah.


Saat remaja, Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya menjual patung-patung buatannya. Namun, Ibrahim tidak tertarik menjualnya karena Allah telah mengilhamkan iman dan tauhid kepadanya. Pada masa Nabi Ibrahim, orang-orang di Mesopotamia beragama politeisme dan Dewa Bulan atau Sin adalah salah satu berhala yang paling penting.


Nabi Ibrahim bertekad memerangi kesyirikan kaumnya termasuk ayahnya yang juga menyembah berhala. Kewajiban pertama Ibrahim yang harus dilakukan sebelum berdakwah kepada orang lain adalah menyadarkan ayahnya. Dengan sikap sopan, Ibrahim mengatakan kepada ayahnya bahwa ia diutus Allah sebagai nabi dan rasul. Ia juga mengatakan bahwa penyembahan berhala adalah ajaran setan dan menasihati ayahnya agar menyembah Allah.


Aazar, ayah Ibrahim marah mendengar kata-kata anaknya karena menganggap Ibrahim menghina kepercayaan ayahnya. Nabi Ibrahim menerima kemarahan ayahnya dengan sikap yang tenang. Kemudian, Ibrahim keluar meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih karena tidak berhasil menyadarkan ayahnya dari lembah syirik dan kafir.


Penolakan ayahnya tidak membuat Ibrahim patah semangat. Ia terus berdakwah menyadarkan kaumnya. Nabi Ibrahim, bahkan, berencana menghancurkan berhala-berhala yang disembah oleh kaumnya.


Setiap tahun, penduduk kerajaan Babilonia memperingati hari raya keramat dengan beramai-ramai ke luar kota selama beberapa hari. Ibrahim pun ikut diajak ke luar kota, tetapi menolak dengan berpura-pura sakit. Meliihat keadaann kota yang kosong, Ibrahim pergi ke tempat peribadatan kaumnya dan menghancurkan patung-patung semabahan kaumnya.


Setelah pulang dari luar kota, para penduduk terkejut melihat patung-patung hancur berantakan. Para penduduk ini menuduh Ibrahim sebagai pelakunya. Akhirnya, Raja Namrudz memutuskan untuk membakar hidup-hidup Ibrahim sebagai hukuman atas perbuatan menghancurkan tuhan mereka.


Setelah kayu bakar terkumpul di lapangan untuk upacara pembakaran, orang-orang berkumpul menyaksikan hukuman bagi Ibrahim. Dalam keadaan terikat, Ibrahim dibwa ke atas gedung dan dilemparkan ke dalam tumpukan kayu dengan api yang menyala-nyala. Turunlah firman Allah “Hai api, menjadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim”.


Ibrahim tetap tenang walaupun berada di dalam bukit api. Ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah dan tidak sedikit pun tersentuh api. Ini merupakan mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim. Mukjizat ini adalah bukti nyata kebenaran dakwahnya dan telah membuka mata hati sebagian kaumnya. Banyak kaumnya yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim.

Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan