Mutiara Hikmah: Bersedekah dengan Penuh Keikhlasan

 

Jika tangan kanan kita memberi, tangan kiri kita jangan sampai tahu. Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah kepada kita semua, salah satunya perilaku ikhlas. Perilaku ikhlas itu adalah perilaku hati. Bahkan, perilaku ikhlas ini merupakan rahasia antara seseorang dan Allah. Tidak ada orang lain pun yang mengetahuinya.


Mutiara hikmah kali ini akan membahas tentang ikhlas dalam bersedekah. Sedekah adalah salah satu teori yang diberikan Allah untuk memperbanyak atau melipatgandakan harta yang dimiliki. Entah itu di dunia atau nanti di akhirat.


"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang ia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Q.S. Al-Baqarah: 261)


Dalam ayat tersebut, Allah menawarkan hal yang sangat menggiurkan, yaitu satu berbanding tujuh (menafkahkan harta di jalan Allah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tuhjuh butir). Perbuatan inilah yang belum dapat disadari oleh umat Islam. Hal ini adalah sebuah teori ekonomi untuk menginvestasikan harta yang dipunyai dan hasilnya akan berlipat-lipat.


Ayat tersebut juga dijadikan acuan oleh beberapa ekonom muslim dalam mengalokasikan harta mereka. Konsumsi sehari-hari atau konsumsi total seorang muslim adalah penjumlahan dari konsumsi untuk ibadah dan konsumsi untuk duniawi.


Simpulannya, di dalam harta yang dimiliki oleh seorang muslim terdapat hak orang lain (mustahik) sebagai wujud solidaritas kepada fakir miskin. Solidaritas di sini artinya menolong perekonomian fakir miskin sehingga mereka bisa khusyu beribadah kepada Allah tanpa harus "menjual" akidahnya kepada pihak misionaris.


"Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya." (Q.S. As-Saba': 39)


Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengatakan bahwa shalat akan mengantarkanmu setengah jalan, puasa akan membawamu ke depan pintu Al-Malik, dan sedekah akan memasukkanmu ke hadapan Allah.


Ibnu Mas'ud pernah menuturkan sebuah kisah seorang laki-laki yang beribadah selama tujuh puluh tahun. Kemudian, ia berzina dan Allah pun menghapus semua amalnya selama ini. Setelah itu, laki-laki ini bertemu dengan seorang fakir miskin dan memberikan sedekah berupa sepotong roti kepadanya. Allah pun mengampuni dosa laki-laki ini dan memuliakan lagi pahala ibadahnya yang dilakukan selam tujuh puluh tahun tersebut.


Ubaid bin Umar pun pernah berkata bahwa pada hari kiamat nanti, manusia akan dikumpulkan dalam kondisi lapar dan haus yang belum pernah dialami sebelumnya. Barang siapa yang memberi makan orang karena Allah, maka Allah akan mengenyangkannya. Barang siapa memberi minum orang karena Allah, maka Allah akan meminuminya. Barang siapa yang memberi sandang (orang) karena Allah, maka Allah akan membusanainya.


Itulah beberapa keutamaan sedekah. Tidak sepantasnya manusia bersifat kikir serta bakhil kepada sesama, terlebih untuk membantu saudara kita yang sedang terpuruk masalah ekonomi. Bersedakah berarti berbagi kebahagiaan. Allah pun pasti akan memuliakan orang yang selalu ikhlas dalam bersedekah.


Kita semua sebagai makhluk Allah harus bersyukur dengan cara bersedekah. Hidup kita akan tenang dan diridai Allah dengan bersedekah. Semoga kita semua diberi kemudahan untuk selalu bersedekah. Amin.


View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan