Bagaimana Mewujudkan Ukhuwah Islamiyah?

Tugas utama manusia adalah menegakkan dien (agama) Allah SWT, dan ajaran Islam akan tegak jika ada masyarakatnya yang Islami yang terbentuk dari persaudaraan dan cita-cita karena Allah SWT semata. Ukhuwah islamiyah merupakan persaudaraan yang terbentuk oleh suatu ikatan yang mengalahkan ikatan atas dasar darah dan keturunan, yaitu ikatan hati atas dasar akidah Islamiyah, keimanan dan taqwa , Allah SWT berfirman :

“ Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat : ayat 10 )

Ukhuwah islamiyah merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan atas kehendak-Nya. Ikatan hati tidak dapat terjadi jika didasari oleh kekuatan materi atau kepentingan lain, ikatan hati akan terwujud oleh kekuatan akidah dan persaudaraan sejati seperti yang disebutkan dalam Al-Quran :

“Dan yang mempersatukan hati-hati mereka ( orang-orang yang beriman), walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah  mempersatukan hati mereka sesungguhnya Dia maha perkasa lagi maha bijaksana” ( QS, Al-Anfal : 63 ).

Rasulullah SAW, mengambarkan bagaimana seharusnya ummat Islam terpadu dalam suatu bangunan :

“Setiap mukmin yang satu bagi mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, satu di antara lainnya saling memperkokoh ”

Kalau kita lihat sebuah bangunan yang kokoh dan megah, tentunya disana ada beberapa material yang dibutuhkan untuk saling menguatkan. Contohnya besi beton bertugas untuk mengokohkan pilar-pilar, begitu juga tembok, batu-bata dan lain sebagainya,  agar tampak kelihatan rapih dan bersih lalu dipoles dengan cat berwarna warni jadilah sebuah bangunan yang kokoh. Begitu juga dalam kehidupan muslim dengan terbentuknya rasa ukhuwah islamiyah maka Islam ini akan lebih terlihat kuat dan indah.

Kita lihat ke belakang ke masa-masa dimana sejarah mencatat ummat Islam hampir-hampir tidak pernah kalah baik fisik maupun militer, bahkan imperium romawi yang begitu besar dikalahkan oleh pasukan Islam pimpinan Shalahuddin Al Ayubi dalam perang salib. Ilmu pengetahuan dan budaya Islam pernah memimpin dunia selama lebih dari 600 tahun dan berbagai kejayaan lainnya  yang memukau bangsa barat.

Semua kejayaan itu dapat dicapai oleh ummat terdahulu karena mereka yakin bahwa kemenangan pasti akan Allah berikan kepada orang-orang yang beriman dan hanya bila orang-orang beriman menjadikan Allah ta’ala dan Rasul-Nya dan orang-orang beriman dan taqwa sebagai penolongnya. Dan kemenangan yang sebenarnya hanya akan muncul setelah cinta kepada Allah dan Rasulnya menancap kokoh dalam sanubari seorang muslim menjadikan Allah sebagai Ilah dan Rasulnya sebagai model dalam hidupnya serta menjadikan orang-orang beriman lainnya sebagai saudara. Jadi umat Islam akan selalu menang manakala memiliki dua potensi kekuatan yaitu kekuatan aqidah dan kekuatan ukhuwah islamiyah serta mewujudkan keduanya dalam realita kehidupan. Firman AllahSWT :

“ Dan barang siapa mengambil Allah dan rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”.(QS.  Al-Maidah : 56 )

Dengan menjalankan ajaran islam yang kaffah (menyeluruh) maka Allah pasti akan memenuhi janjinya dengan apa yang telah Allah janjikan dalam Al-Quran.

Karena Al-qur’an dan hadist merupakan pedoman hidup bagi kaum muslim agar dalam menjalankan hidupnya sesuai dengan syariat-Nya, dengan menjalankan syariatnya maka pertolongan Allah pun akan semakin dekat.


Langkah-langkah dalam Ukhuwah Islamiyah

Untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah yang benar-benar kuat dan utuh tidaklah mudah, melainkan membutuhkan proses yang bertahap dan berkesinambungan. Sekurangnya ada empat upaya yang diperlukan untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah, yaitu :

1.       Ta’aruf (Saling Mengenal)

Dalam tahap ini sesame muslim saling mengenal baik dari aspek fisik, pemikiran, maupun kejiwaan. Dan dengan pengenalan ini, sesame muslim dapat saling menghayati hakekat perbedaan-perbedaan yang ada dan mampu menerimanya sebagai kehendak Allah Swt. Allah Swt berfirman :

“Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu mengenal satu sama lain. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang lebih bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Mengerti.” (QS. Al-Hujurat : 13)

2.       Tafahum (Saling Memahami)
Pada tahap ini intensitas pengenalan terhadap saudara sesame muslim lebih mendalam yaitu sampai pada taraf memahami kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, karakter, dan cara berpikir. Dari tahap ini akan timbul ikatan hati (ta’liful qulb) yang merupakan inti dari ukhuwah islamiyah, karena hati adalah sumber dari gerakdan sikap seseorang.

Bila hati telah terpaut dan jiwa telah berpadu dalam suatu ikatan yang bermuara pada simpul aqidah, maka barulah akan terwujud persaudaraan yang bersih dan penuh rasa kasih.

3.       Ta’awun (Saling Menolong)
Saling membantu adalah salah satu sikap mulia yang Nampak memancar dari persaudaraan Islam seperti yang disebutkan dalam firman Allah Swt :

“Dan tolong menolonglah kamu (mengerjakan ) kebajikn dan taqwa, dan jangan tolong  menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah : 2)


Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap tafahum (saling memahami). Saling mengenal tanpa saling memahami tidak akan membentuk hubungan antar individu yang mempu tolong menolong.

4.       Takaful (Saling Mencukupi / menunjang)
Merupakan tahapan upaya yang tertinggi, dimana timbul rasa senasib sepenanggungan, baik dalam suka maupun duka. Setelah saling mengenal, kemudian ada sikap saling memahami yang akan memunculkan sikap saling membantu, maka Allah Swt akan memberi kemudahan pada rasa kebersamaan yang hakiki. Saat itulah kaum mukminin akan bersikap saling mencukupi dan saling menunjang dengan saudaranya, mengisi kekurangan dengan membagi kelebihan yang ada pada tiap individu.

Maha benar Allah atas firman-Nya pada (QS.Al Hasyr:9) yang mengisahkan tingkatan ukhuwah yang amat dalam dari kaum Anshar dan Muhajirin di masa Rasulullah Saw. Dalam tafsir ayat di atas, salah satu riwayat mengabarkan dari Anas bin Malik r.a. yang berkata :

“Seorang laki-laki mendapat hadiah kepala kambing dan ia adalah orang miskin, namun ia serahkan kepala kambing itu kepada tetangganya karena dilihatnya lebih miskin. Maka berputarlah kepala kambing tersebut kepada tujuh jiwa dalam tujuh rumah yang berbeda, lalu akhirnya kembali ke orang yang member pertama kalinya, maka turunlah ayat tersebut.”

Hak dan Kewajiban Sesama Muslim

Seorang muslim memiliki hak dan kewajiban terhadap muslim lainnya. Di antara hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang terpenting adalah menyebarkan salam, menjawab salam, menengok yang sakit, mengantarkan jenazah, memohonkan do’a, mendo’akan yang bersin, menolong yang dizhalimi (teraniaya), menolong yang kesulitan, saling menasehati, menutupi aib yang lainnya, menjauhkan diri dari perbuatan yang mengganggu atau merugikannya seperti dengki, zhalim, ghibah, dan naminah.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairrah RA, bahwa Rasulullah SAW berkata :

“Hak sesorang muslim atas muslim ada enam, yaitu jika bertemu maka ucapkan salam kepadanya, jika diundang maka penuhilah, jika dinasihati maka nasihati pulalah ia, jika bersin dan mengucapkan Alhamdulillah maka do’akanlah yarhamukallah, jika ia sakit kunjungilah, dan jika meninggal maka antarkanlah (ke kubur) “.


View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan