Renungan Islam: Akhlak Islami

 

Ali bin Abi Thalib, salah satu keponakan, Sahabat sekaligus menantu Rasulullah saw, beliau pernah berwasiat kepada umat Islam “hisablah diri kalian sebelum dihisab kelak, timbanglah amal kalian sebelum ditimbang kelak”.


Wasiat ini sungguh dalam maknanya terutama dalam menjalani kehidupan, melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Allah Swt dan kepada sesama. Renungan Islam yang diwasiatkan Ali bin Abi Thalib, ibarat minatur Alam Hisab yang suatu hari nanti, pasti akan manusia alami.  


Hakikat Islam


Tak jarang, kita lebih sering menyalahkan orang lain dalam banyak hal tanpa berpikir sebelumnya, jangan-jangan masalah itu timbul karena kesalahan kita juga. Ibarat pepatah mengatakan semut di ujung lautan terlihat, tapi gajah di depan mata tak terlihat, begitulah sifat manusia pada umumnya.


Maka pantaslah jika hakikat Islam yang dijelaskan Rasulullah saw tak lepas dari empat perkara, yaitu akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Jika akidah dan ibadah identik dengan beribadah kepada Allah Swt (ahabbu ilallah), maka muamalah dan akhlak identik dengan berbuat baik kepada sesama manusia (ahabbu ilalnnas).


Akhlak = Senjata Rahasia


Keseimbangan memang sangat diperhatikan dalam Islam. Bukanlah muslim yang baik jika hanya beribadah kepada Tuhannya, tapi gemar menyakiti sesama. Bukan pula muslim yang bijak jika rajin salatnya, namun tak rajin sedekahnya. Maka akhlak, memegang peranan yang teramat penting dalam Islam.


Di zaman Rasulullah saw, banyak sekali non-muslim yang kemudian menjadi muslim bukan karena diperangi, dipaksa, atau disogok, tapi karena melihat akhlak Rasul dan para sahabatnya yang memberi kenyamanan, baik kepada sesama muslim atau kepada non-muslim.


Pernah Rasulullah saw diludahi oleh seorang Yahudi tiap kali akan melaksanakan salat, dan kejadian itu bukan hanya sekali atau dua kali. Tapi pada suatu hari orang Yahudi itu tidak ada karena sakit. Bukannya membalas justru Rasul malah menjenguk dan mendoakannya supaya lekas sembuh. Maka saat itu juga orang Yahudi yang biasa meludahi Rasul masuk Islam karena takjub dengan balasan yang di luar dugaanya.


Inilah istimewanya akhlak Rasul yang harus dijadikan teladan oleh umat Islam sampai akhir zaman. Lalu mengapa umat Islam masih saja ada yang menindas sesama atau umat lainnya hanya karena kepentingan kelompok, politik, dan kekuasaan hingga mengorbankan persaudaraan (ukhuwah) bahkan nyawa yang nilainya jauh lebih tinggi daripada keuntungan dunia semata.


Rasulullah saw Mercusuar Akhlak


Tidak sekadar salat, tidak sekadar zakat, tidak pula sekadar puasa tujuan diutusnya Rasul ke dunia. Lagi pula, tidak sempurna salatnya jika masih maksiat, tidak sempurna zakatnya jika masih korupsi, dan tidak sempurna pula puasanya jika masih belum bersabar. Hakikat ibadah kepada Allah Swt seharusnya bisa dirasakan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari sehingga bukan menjadi rutinitas semata.


Di samping memberi petunjuk tata cara ibadah yang benar, Rasul pun diutus dalam rangka menyempurnakan akhlak sebagai perilaku yang keluar begitu saja dan mencerminkan diri seseorang tanpa disadari kapan pun dan di mana pun.


Untuk memiliki akhlak mulia tidak terjadi begitu saja. Mempelajari, memahami, mengamalkan akhla,k dan berkaca kepada Rasul adalah keniscayaan dalam Islam, sebab ketika Ummul Mukminin Siti Aisyah ditanya tentang akhlaknya Rasul, ia dengan tegas menjawab, akhlaknya adalah Al Quran.

Beri rating untuk artikel di atas Buruk sekali Kurang Biasa Bagus Bagus sekali



View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan