Tampilkan postingan dengan label Planet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Planet. Tampilkan semua postingan

Penemuan Lebih dari 400 Planet Baru

Banyak penemuan-penemuan baru dalam bidang teknologi yang bisa kita nikmati dan manfaatkan untuk kemudahan hidup kita. Bagaimana jika mendengar ada penemuan planet baru? Letaknya yang jauh, tentu membuat kita penasaran bagaimana wujud planet baru tersebut.

Manusia bisa terus berkembang, menghasilkan berbagai penemuan baru, terlebih lagi alam semesta. Tanpa kita sadari, mungkin setiap waktu alam mengalami perubahan, entah itu perubahan musim ataukah penambahan anggota di luar sistem tata surya.

Kita mengenal ada sembilan planet yang mengitari pusat tata surya, matahari. Dari kesembilan planet tersebut hanya satu planet yang layak untuk dihuni oleh manusia, yaitu Bumi. Apakah planet-planet lainnya tidak layak untuk dihuni? Jika melihat struktur Bumi dan kandungan unsur hara Bumi, yang cocok untuk ditinggali oleh makhluk hidup, tidak ditemukan di planet lainnya.

Namun, sejak tanggal 26 Agustus 2006, para ilmuwan sepakat untuk mengeluarkan Planet Pluto dari daftar planet yang ada, sehingga jumlah planet di tata surya menjadi delapan planet. Planet Pluto dinyatakan hilang, salah satunya karena sudah tidak terlihat lagi dilintasan orbit-orbit planet dalam sistem tata surya.

Tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini, tampaknya bisa berlaku juga di pusat tata surya. Tanpa kita sadari ada banyak planet baru yang ditemukan. Menurut International Astronomical Union (IAU), atau Persatuan Astronomi Internasional, menyatakan ada enam planet baru yang ditemukan.

Keenam planet baru tersebut dinamakan Ceres, Sedna, Orcus, Xena, Quaoar, dan UB 313. Ukuran keenam planet baru tersebut, pada awal ditemukannya berukuran besar. Namun, selang beberapa waktu, Ceres dan UB 313 kini berubah status menjadi planet baru kerdil.

Penemuan planet-planet baru ini dianggap lumrah mengingat benda-benda langit di pusat tata surya, yang berada di lintasan orbitnya masing-masing, tak menutup kemungkinan membentuk planet baru di luar sistem tata surya.

Bagaimana terbentuknya planet baru? Matahari sebagai pusat tata surya memegang kendali pembentukan planet baru ini. Di sekitar matahari, ada proses yang disebut akresi, yang menjadi sebab terbentuknya planet baru. Tidak hanya planet baru yang dapat terbentuk melalui proses akresi ini, tetapi juga dapat membentuk bulan, komet, dan asteroid.

Partikel-partikel kecil yang berada di sekitar Matahari, saling bertabrakan dan membentuk badan yang lebih besar dan akhirnya mencapai ukuran planet. Partikel yang telah membetuk planet baru ini, seiring perjalanan waktu akhirnya memiliki kemampuan untuk menciptakan gravitasinya sendiri.

Planet baru banyak ditemukan oleh para ahli astronomi. Penemuan planet baru tersebut tidak hanya dilakukan oleh Persatuan Astronomi Internasional (IAU) saja, tetapi juga dilakukan oleh berbagai ahli astronomi di seluruh dunia, salah satunya ada ahli astronomi asal Indonesia yang juga ikut menemukan planet-planet baru. Berikut perkembangan dari tahun ke tahun perihal penemuan planet baru di luar sistem tata surya:

Berdasarkan informasi yang didapat, pada tahun ini ditemukan planet baru, yang dilihat di La Silla Cile. Planet baru ini ditemukan oleh ahli astronomi Eropa. Planet baru yang dinamakan dengan Planet 581 C, ini disinyalir sebagai planet baru yang mirip dengan Bumi tempat kita tinggal. Planet 581 C ini dilihat dengan menggunakan teleskop observatorium Eropa Selatan.

Seorang astronom Jerman Wilhelm Gliese, yang menyusun katalog planet pengitar Bintang Gleise 581 sebagai bagian dari survey mengenai bintang yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1957, menemukan Planet Gliese 581g.

Planet baru ini ditemukan ketika mengitari bintang merah Gleise 581. Karena mengitari bintang merah Gleise 581 inilah, mengapa planet baru tersebut diberi nama Planet 581 C. Planet baru 581 C ini ternyata memiliki kandungan air, temperatur dan bentuknya belum dapat diketahui dengan pasti, dan planet baru ini jaraknya sangat jauh dari Bumi kita. Planet 581 C berjarak 120 triliun mil dari Bumi.

Planet baru Gliese 581g ini mengorbit bintang cebol merah Gliese 581 yang berjarak 20 juta tahun cahaya dari Bumi dalam konstelasi Libra. Dengan jarak sejauh itu, berarti planet tersebut cukup dekat dengan bintangnya, sehingga waktu orbitnya kurang dari 37 hari. Planet baru ini hampir seukuran Bumi. Massa planet empat kali lebih besar dari massa Bumi. Planet baru Gliese 581g memiliki radius jarak antara 1,3 – 2 kali panjang jari-jari Bumi.

Peneliti David Charbonneau dari Pusat Astrofisika Smithsonian, Unversitity Harvard, Cambridge, Massachusetts, menjelaskan adanya penemuan planet baru. Planet baru ini dinamai GJ 121 4b, dengan memiliki ukuran sekitar 2,7 kali ukuran Planet Bumi. Planet baru ini memiliki massa kira-kira 6,5 kali lebih berat dari Bumi.

Berdasarkan berat jenisnya, para ilmuwan mengira GJ 121 4b mengandung ¾ air likuid dengan inti padat dari besi dan nikel serta atmosfer hidrogen dan helium yang mirip dengan Bumi. Uniknya planet baru ini merupakan samudera yang luas, karena di planet baru ini tidak ada satu pun benua yang mengambang di atas atau menyeruak dari air.

Planet GJ 121 4b ini ditemukan dengan menggunakan proyek MEarth. MEarth merupakan satu unit perangkat teleskop kecil berbasis di Bumi yang digunakan untuk mendetekasi perubahan dari menit ke menit kekuatan cahaya bintang-bintang merah nan redup yang disebut dengan M dwarfs atau Bintang Cebol.

Planet GJ 121 4b ternyata lebih panas dari Bumi kita. Atmosfernya pun lebih tebal, sehingga tekanan atmosfer terhadap permukaan planet itu besar sekali dan cahaya yang sangat sedikit sulit menembus kabut untuk mencapai samudera planet baru tersebut.

Para ahli ilmu astronomi Eropa mengumumkan penemuan 32 planet baru di luar sistem tata surya. Penemuan planet baru tersebut memperkuat bukti dari teori bahwa jagat semesta sebenarnya memiliki banyak tempat yang bisa membangun kehidupan.

Para peneliti astronomi Eropa menyatakan bahwa planet-planet baru yang mereka temukan itu berukuran tidak sama dengan Bumi. Sehingga, penemuan planet baru yang berjumlah 32 planet baru ini menambah jumlah planet yang telah ditemukan di luar tata surya yang telah mencapai angka 400 buah planet baru.

Penemuan 32 planet baru ini menggunakan teleskop dari European Southern Observatory. Melalui teleskop ini, dapat dilihat bahwa enam dari planet-planet yang baru ditemukan itu berukuran beberapa kali besar Bumi.

Keenam planet baru tersebut diyakini bisa menampung habitat lebih dari 30 persen dari kapasitas Bumi. Dua planet baru yang ditemukan berukuran lima kali lebih kecil dari Bumi. Sisanya, sebagian besar planet baru yang ditemukan ini ada yang berukuran sama besar dan lima kali lebih kecil dari Planet Jupiter.

Kita sebagai orang Indonesia bisa bangga dengan apa yang dilakukan oleh seorang Johny Setiawan, yang saat ini sedang menjalin kerjasama dengan Max Planck Institute for Astronomy (MPIA) Jerman, menemukan planet baru HIP 13044 b.

Planet baru HIP 13044 b ini ditemukan dengan menggunakan alat canggih Spectrograph Teleskop 2,2 meter di Cile. Planet baru yang ditemukan oleh Johny ini, membutuhkan waktu orbit untuk mengelilingi bintang induknya selama 16 hari. Sementara bintang itu sendiri sudah melewati fase red giant. Apa itu fase red giant? Fase red giant merupakan ukuran membengkak dari diameter aslinya sebelum mati karena kehabisan hidrogen.

Selain planet baru HIP 13044 b, Johny bersama timnya juga telah berhasil menemukan delapan planet baru dengan menggunakan teleskop yang sama di European Southern Observatory’s La Silla Observatory, Cile. Kedelapan planet baru tersebut adalah HD 47536 b, HD 11977 b, HD 70573 b, TW Hydrae b, Chi Virgins b, HD 110014 b, dan HD 110014 c. Hasil penemuan planet-planet baru ini telah dipublikasikan di berbagai jurnal ilmiah Astronomy & Astrophysics, dan The Astrophysical Journal And Nature.

Dari berbagai penemuan planet baru yang dilakukan oleh berbagai ahli astronomi, bila ditotal secara keseluruhan sudah ada 400-an planet baru yang ada di luar sistem tata surya kita. Tidak menutup kemungkinan, akan ditemukan lagi planet baru lainnya, yang bisa dihuni oleh manusia selayaknya planet Bumi.


View the original article here

Hubungan Planet dan Planetarium

Bumi merupakan salah satu planet yang berada di gugusan sistem tata surya, dengan Matahari sebagai pusat revolusinya. Tata surya adalah beberapa benda-benda angkasa yang terikat kepada salah satu bintang sebagai pusat gravitasinya. Dalam hal ini adalah Matahari sebagai pusat gravitasi. Benda-benda angkasa yang terdapat dalam sistem tata surya terdiri atas planet, satelit, asteroid, meteor, dan komet.

Dalam sistem tata surya terdapat delapan planet, yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Semua planet tersebut secara periodik mengelilingi Matahari (revolusi), selain setiap planet juga mengelilingi porosnya masing-masing (rotasi).

Revolusi dan rotasi setiap planet memiliki waktu yang berlainan. Bergantung jarak masing-masing planet terhadap Matahari.Selain Merkurius dan Venus, keenam planet lainnya memiliki satelit. Artinya keenam planet tersebut memiliki benda angkasa yang teratur mengelilinginya dengan periode tertentu.

Bulan (moon) dikenal sebagai satelit Bumi.Deimos dan Phobos adalah dua satelit Mars; Ganymede, Io, Callisto, dan Europa adalah satelit-satelit Jupiter; Saturnus mempunyai 60 satelit, salah satunya bernama Titan dengan ukuran lebih besar dari Merkurius; Uranus mempunyai 27 satelit, di antaranya bernama Titania, Ariel, Umbriel, Oberon, dan Miranda; sedangkan Neptunus memiliki 13 satelit, salah satunya yang terbesar bernama Triton.

Pluto, dulu dianggap sebagai salah satu planet di gugusan tata surya ini. Akan tetapi, perkembangan ilmu pengetahuan menyatakan bahwa Pluto dianggap bukan lagi sebagai planet, melainkan sebuah planet kerdil. Alasannya karena Pluto masih berada di lintasan Sabuk Kuiper  sehingga di lingkungan Pluto masih terdapat benda angkasa selain satelitnya.

Sebuah planet terdefinisi sebagai suatu planet salah satunya apabila di lingkungan terdapat benda angkasa selain satelitnya. Perubahan status Pluto ini berdasarkan kesepakatan para ahli Astronomi pada pertemuan Persatuan Astronomi Internasional 24 Agustus 2006.

Bersamaan dengan majunya ilmu pengetahuan, istilah “planet” pengertiannya berubah dari sesuatu yang bergerak melintasi langit menjadi benda yanbg bergerak mengellilingi Bumi. Saat model heliosentrik sudah mendominasi (abad ke-19), saat itu juga planet mulai dianggap sebagai sesuatu yang mengorbit Matahari dan Bumi merupakan sebuah planet saja. sampai pertengahan abad ke-19, semua obyek yang terlihat mengelilingi Matahari disebut planet. Jumlah planet menjadi bertambah dengan cepat dan banyak jumlahnya di akhir abad ini. 

Sepanjang kurun waktu 1800-an, para astronom mulai sadar bahwa banyak sekali penemuan terbaru yang tidak sama dengan planet-planet tradisional. Obyek-obyek seperti Ceres, Pallas, dan Vesta, yang sudah digolongkan sebagai planet selama hampir setengah abad, akhirnya digolongkan dengan nama baru, yaitu asteroid. Dalam konteks ini, tidak adanya definisi formal menyebabkan planet didefinisikan sebagai benda besar yang mengorbit pada Matahari. Tidak ada kepentingan untuk menentukan batas-batas pengertian karena ukuran antara asteroid dan planet sangat berbeda. 

Selanjutnya, pada abad ke-20, Pluto ditemukan. Pengamatan awal terhadap Pluto menyebutkan bahwa Pluto memiliki ukuran lebih besar daripada Bumi. IAU (Union astronomique internationale) akhirnya menerima obyek itu sebagai planet. Pengamatan yang lebih dalam menemukan bahwa obyek itu sebenarnya jauh lebih kecil dari dugaan awal. Namun, karena dianggap lebih besar daripada semua asteroid yang diketahui dan terlihat tidak eksis dalam populasi yang besar, Union astronomique internationale tidak mengubah statusnya selama kurang lebih 70 tahun. 

Pada 1990-an dan awal 2000-an, terdapat banyak penemuan obyek seperti Pluto di daerah yang relatif sama. pluto ditemukan hanya sebatas benda kecil dalam sebuah populasi yang berjumlah mencapai ribuan, sama seperti Ceres dan asteroid-asteroid pada zaman sebelumnya. Semakin banyaknya astronom yang menginginkan agar Pluto diberi pengertian ulang dari sebuah planet karena dipicu bertambahnya penemuan obyek-obyek sejenis. Ditemukannya Eris, obyek yang lebih masif dari Pluto, yang selanjutnya diperlihatkan secara luas sebagai planet kesepuluh, mengakibatkan hal ini semakin populer. 

Pada tanggal 24 Agustus 2006, berdasarkan pemungutan suara, akhiranya IAU membuat pengertian planet yang baru. Akibatnya, jumlah planet dalam Tata Surya berkurang menjadi delapan benda besar yang sukses membersihkan lingkungannya (Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus). Sementara itu, sebuah kelas baru berhasil dibuat, yaitu planet katai (Ceres, Pluto dan Eris). 

Lima planet paling dekat dengan Matahari selain Bumi, yaitu Merkurius, Venus, Mars, Yupiter dan Saturnus, sudah dikenal sejak masa lalu karena semua planet ini dapat dilihat dengan mata telanjang. Aristoteles memperkenalkan nama-nama dewa dalam mitologi untuk planet-planet ini pada abad ke-4 SM. Hermes dipakai untuk nama Merkurius, Ares untuk Mars, Zeus untuk planet Jupiter, Kronos untuk planet Saturnus, dan Aphrodite untuk planet Venus. 

Fenomena alam berupa gugusan tata surya merupakan sebuah keteraturan yang menakjubkan. Keberadaannya menunjukkan eksistensi kehidupan hingga akhir zaman. Kita dapat mengamati dan mempelajari tata surya dengan mengunjungi planetarium.

Planetarium merupakan sebuah tempat yang memutar pertunjukan berupa simulasi ‘kehidupan’ tata surya. Dalam suatu planetarium biasanya terdapat ruang pertunjukan (theatre), tempat diadakannya simulasi tersebut. Pertunjukan biasa dilakukan malam hari. Selain itu, planetarium menawarkan kepada para pengunjungnya untuk bisa mempelajari ilmu astronomi secara umum.

Atap sebuah planetarium berbentuk kubah. Tidak seperti pada observatorium, meskipun sama-sama berbentuk kubah, kubah pada planetarium tidak dapat dibuka tutup. Inilah yang membedakan suatu planetarium dari observatorium. Akan tetapi, ada pula suatu planetarium yang juga merupakan observatorium.

Dalam ruang pertunjukan suatu planetarium, terdapat kumpulan gambar yang dipantulkan pada proyektor. Proyektor ini biasanya terdapat di tengah ruang pertunjukan dan memperagakan berbagai cerita dengan narasi tertentu tentang ‘kehidupan’ jagat raya.

Selain itu, pertunjukan juga diiringi oleh alunan musik. Setiap kursi dalam ruang pertunjukan dapat direbahkan agar para pengunjung dapat pula mengamati pertunjukan pada layar yang ditempatkan di bagian dalam langit-langit kubah. Biasanya pertunjukan berlangsung sesuai dengan tema yang ditawarkan pada setiap planetarium.

Di seluruh dunia terdapat 3.300 planetarium, paling banyak terdapat di Amerika Serikat, yaitu sebanyak 1.500 planetarium. Di Eropa, sedikitnya terdapat 450 planetarium. Di Indonesia, terdapat tiga planetarium, yaitu di Jakarta (Taman Ismail Marzuki, merangkap sebagai observatorium), di Kutai, Kalimantan Timur, dan di Surabaya.

Planetarium yang terdapat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta merupakan planetarium tertua di Indonesia. Planetarium ini didirikan pada tahun 1964 atas prakarsa presiden yang memerintah saat itu, yaitu Ir. Soekarno.

Selain sebagai sarana pendidikan yang menyuguhkan pertunjukan mengenai ruang angkasa, di planetarium ini terdapat museum sebagai ruang pamer berbagai pengetahuan astronomi berkaitan dengan benda-benda angkasa dan jagat raya secara umum. Pertunjukan yang disuguhkan di Planetarium Jakarta memiliki waktu tayang sekitar 60 menit. Di sana terdapat 9 judul pertunjukan yang disajikan secara bergantian.

Jika Anda tertarik untuk mempelajari lebih jauh tentang ‘kehidupan’ jagat raya, Anda dapat mengamati langsung dengan mengunjungi museum yang ada di planetarium. Selain itu, tentunya tidak dapat dilewatkan begitu saja untuk mengikuti salah satu program pertunjukan, seperti yang ditawarkan oleh Planetarium Jakarta. Anda dapat mengunjungi salah satu planetarium yang terdekat dengan daerah Anda.


View the original article here

Mengenal Planet Merkurius Lebih Dekat

Merkurius adalah planet terkecil dalam tata surya. Planet yang berjarak sekitar 57,9 juta kilometer dari Matahari ini memiliki suhu sangat panas pada siang hari, yaitu sekitar 430 derajat Celcius. Hal ini terjadi karena planet ini memiliki jarak yang sangat dekat dengan Matahari. Sementara pada malam hari, suhu di planet ini sangat dingin mencapai minus 170 derajat Celcius.

Planet Merkurius berjarak sekitar 92 juta kolimeter dari Bumi. Penampakan planet ini dapat dilihat dengan mata telanjang dari Bumi pada waktu-waktu tertentu, seperti maghrib atau subuh. Merkurius memiliki masa rotasi yang sangat lambat, yaitu 59 hari. Perputaran planet merkurius mengelilingi matahari atau berevolusi sangat cepat, yaitu 88 hari. Sangat berbeda jauh dengan Bumi yang memerlukan 365 hari untuk melakukan revolusi.

Merkurius memiliki ukuran hanya 27 persen dari ukuran Bumi. Bentuk permukaan planet Merkurius berupa benjolan-benjolan mirip dengan bentuk permukaan bulan. Struktur permukaan berupa benjolan-benjolan itu terjadi sebagai akibat benturan dengan meteor. Planet ini mempunyai banyak kawah. Di samping itu, planet ini tidak memiliki satelit dan lapisan atmosfer. Planet ini memiliki inti besi yang menciptakan medan magnet dengan kekuatan 0,1 persen dari kekuatan medan magnet yang dimiliki Bumi.

Pengamatan pertama tentang Merkurius dimulai dari bangsa Sumeria pada milenium ke tiga sebelum masehi. Kemudian, bangsa Romawi memberi nama planet ini dengan nama salah satu dewa mereka, yaitu Merkurius (dikenal sebagai Hermes pada mitologi Yunani dan Nabu pada mitologi Babilonia). Planet Merkurius memiliki lambang astronomis yang berupa abstraksi dari kepala sang dewa, Merkurius, dengan topi bersayap di atas caduceus.

Bangsa Yunani pada zaman Hesiod menyebut Merkurius sebagai Stilbon dan Hermaon karena pada abad ke-5 SM, bangsa Yunani mengira bahwa Merkurius adalah dua benda antariksa yang berbeda, yaitu yang satu hanya tampak saat Matahari terbit dan yang satunya lagi hanya tampak saat Matahari tenggelam.

Pada budaya Tiongkok, Korea, Jepang, dan Vietnam, Merkurius disebut sebagai "bintang air". Orang-orang Ibrani menyebut Merkurius sebagai Kokhav Hamah, yaitu "bintang dari yang panas", maksud dari “yang panas” adalah matahari.

Struktur Merkurius

Dengan diameter sebesar 4.879km, Merkurius merupakan planet terkecil dalam sistem tata surya. Merkurius terdiri atas 70 persen logam dan 30 persen silikat. Planet ini mempunyai kepadatan sebesar 5,43 g/cm3 hanya sedikit di bawah kepadatan yang dimiliki bumi. Namun, jika efek tekanan gravitasi tidak dihitung, Merkurius lebih padat dari pada bumi dengan kepadatan tak terkompres dari merkurius sebesar 5,3 g/cm3 dan bumi hanya 4,4 g/cm3.

Merkurius memiliki mantel setebal 600km menyelimuti inti Merkurius dan kerak merkurius diperkirakan setebal 100 sampai 200 km. Permukaan Merkurius memiliki banyak perbukitan, beberapa mencapai ratusan kilometer panjangnya. Diperkirankan, perbukitan ini terbentuk karena mantel dan inti merkurius menciut dan mendingin saat kerak sudah membatu.

Merkurius memiliki kandungan besi lebih banyak dari pada planet lainnya yang berada dalam sistem tata surya. Banyak teori yang menjelaskannya bahwa merkurius pada awalnya mempunyai perbandingan logam dan silikat mirip dengan meteor Kondrit dan memiliki massa sekitar 2,25 kali massanya yang sekarang.

Pada awal sejarah tata surya, planet Merkurius ditabrak oleh sebuah planetesimal berukuran sekitar seperenam dari massanya. Benturan itu menyebabkan lepasnya sebagian besar dari kerak dan mantel Merkurius dan meninggalkan intinya.

Teori lain menyatakan bahwa Merkurius mungkin terbentuk dari nebula matahari sebelum energi keluaran Matahari stabil. Awalnya, Merkurius mempunyai dua kali dari massanya yang sekarang. Namun, dengan mengambangnya protomatahari, suhu di sekitar Merkurius bisa mencapai 2500 sampai 3500 Kelvin, bahkan bisa mencapai 10000 Kelvin.


View the original article here

Planet Pluto: Planet yang bukan Planet

Sistem tata surya kita mengenal berbagai macam benda-benda luar angkasa. Benda-benda yang diteliti dengan cara diamati. Benda-benda di sistem tata surya kita yang sudah banyak diteliti oleh para ilmuwan salah satunya adalah planet.

Planet yang ada di tata surya ini bukan hanya Bumi. Awalnya jumlah planet yang ada di tata surya kita sebanyak sembilan planet. Terdiri dari Planet Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Belakangan nama Planet Pluto dicoret dari daftar nama planet yang ada di sistem tata surya kita.

Rasanya aneh, Planet Pluto yang sudah sekian lama masuk dalam kategori planet, tiba-tiba dihapuskan dan dianggap bukan lagi berkriteria sebagai planet. Penyebabnya adalah ukuran dan kandungan yang ada di Planet Pluto tidak lagi bisa dikategorikan sebagai sebuah planet. Planet Pluto yang sudah 76 tahun menyanding predikat planet, tiba-tiba berubah status menjadi planet katai, planet kerdil atau Kuiper Belt.

Kuiper Belt sendiri adalah benda luar angkasa yang sejenis dengan sabuk asteroid. Kuiper Belt berukuran jauh lebih besar daripada sabuk asteroid itu sendiri. Perbedaan antara sabuk asteroid dan Kuiper Belt adalah kandungan yang terdapat dalam sabuk asteroid adalah berupa bebatuan dan logam, sedangkan kandungan yang terdapat pada Kuiper Belt adalah es, metana, amonia, dan air.

Di dalam Kuiper Belt terdapat tiga planet, yang disebut planet kerdil atau planet katai. Ketiga planet kerdil tersebut adalah Ceres, Haumea, Makemake, Eris, dan Pluto. Planet katai atau planet kerdil memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

Sama dengan planet lain, planet katai juga mengelilingi matahari. Matahari adalah pusat gravitasi dari planet-planet, termasuk planet kerdil sekalipun.Planet katai memiliki massa yang cukup, sehingga planet katai juga memiliki daya gravitasinya sendiri. Gaya gravitasinya tersebut berfungsi untuk menahan tekanan dari benda planet lainnya yang berbentuk lebih besar. Gaya gravitasi yang dimiliki oleh planet kerdil membuatnya memiliki bentuk hampir bulat atau ekuilibrium hidrostatik.Planet katai tidak menyediakan tempat bagi benda luar angkasa lain untuk benda-benda luar angkasa yang lebih besar. Planet katai hanya menyediakan daerah di sekitar orbitnya untuk satelitnya sendiri.Planet katai tidak berperan sebagai satelit dari planet manapun atau benda-benda nonbintang lain yang ada di luar angkasa.

Meskipun kini bukan lagi dikategorikan sebagai sebuah planet, Planet Pluto pada masa lalu adalah benda luar angkasa yang sempat dikategorikan sebagai planet. Selama 76 tahun, Planet Pluto menduduki posisi sebagai planet terjauh dan terkecil dari tata surya.

Planet Pluto ditemukan oleh seorang astronot muda bernama Clyde William Tombaugh. Astronot muda itu pertama kali menemukan Planet Pluto pada 18 Februari 1930. Jarak Planet Pluto dengan matahari adalah sejauh 5.906 juta km.

Sebagai sebuah benda langit, Planet Pluto memiliki garis tengah sepanjang 4.862 km. Planet Pluto butuh waktu selama 248,4 tahun untuk bisa mengelilingi matahari atau berevolusi. Sedangkan, untuk berotasi, Planet Pluto membutuhkan waktu sebanyak 6,39 hari.

Planet Pluto memiliki atmosfer yang terdiri dari metan dan memiliki suhu yang sangat rendah. Pluto bersuhu -233° celcius. Suhu yang minus seperti itu membuat sebagian besar permukaan Planet Pluto terdiri dari es.

Penemuan Planet Pluto hampir bersamaan dengan penciptaan tokoh kartun Walt Disney, Pluto. Seekor anjing berwarna kuning yang lucu. Anggapan bahwa nama planet ini terinspirasi dari tokoh kartun itu tidak bisa dihindarkan.

Oleh penemunya, Clyde, Pluto sebenarnya diambil dari nama seorang dewa Romawi yang berkuasa terhadap dunia kematian. Planet Pluto yang gelap ini kemudian diidentikkan dengan kematian yang gelap. Dari awal ditemukan hingga akhirnya diputuskan bukan lagi berkategori sebagai planet, Pluto masih memiliki misteri yang belum banyak terpecahkan.


View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan