Tampilkan postingan dengan label Jumat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jumat. Tampilkan semua postingan

Khutbah Shalat Jumat Tentang Kewajiban Bekerja

Berikut adalah salah satu contoh khutbah shalat jumat

Alhamdulillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiati a’malinaa. Man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yudlil falan tajidalahu waliyyan mursyidan. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Marilah selalu kita bertakwa kepada Allah Swt., dalam arti yang sebenar-benarnya. Bukan hanya ucapan, melainkan takwa yang diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan, dengan senantiasa menjalankan semua perintah Allah Swt., dan menjauhi segala larangan-Nya, dalam keadaan ramai ataupun sepi. Sungguh beruntung orang yang bertakwa, beruntung di dunia dan bahagia di akhirat.

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Sesungguhnya manusia memiliki kewajiban menjaga kehidupan dirinya sendiri dan kehidupan orang yang menjadi tanggung jawabnya. Yaitu member nafkah setiap hari berupa makanan, minuman, pakaian dan kebutuhan lainnyayang perlu dicukupi, sesuai dengan kemampuanyang ada. Akan tetapi darimana kebutuhan nafkah bisa diperoleh kalau kita tidak bekerja sambil mengharap rahmat Allah Swt.? Bekerja yang kita lakukan namanya ikhtiar.

Oleh sebab itu, marilah kita rajin dalam berusaha dan bekerja. Bekerja apa saja asal dengan jalan yang benar dan halal. Misalnya, berusaha dan bekerja di bidang pertanian, perdagangan, menjadi buruh atau menjadi pegawai, menjadi pengusaha dalam bidang jasa dan sebagainya. Kalau bidang-bidang itu telah kita usahakan, akan tetapi belum berhasil, kita tidak boleh putus asa. Kita harus mencari jalan lain sehingga Allah Swt., member jalan kelapangan bagi kita. Rasulullah Saw., telah bersabda :

“Carilah rezeki oleh kamu sekalian di dalam tumbuh-tumbuhan bumi.” (HR. Abu Ya’la, Thabarani dan Baihaqi dari Aisyah)

Dalam hadist lain Rasulullah Saw bersabda :

“Carilah segala kebutuhan disertai dengan kebesaran jiwa karena setiap perkara itu berjalan bersama-sama dengan takdir  (ketentuan).” (HR. Ibnu Asyakir dari Abdullah bin Bisyr).

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Jadi bekerja itu merupakan perbuatan terpuji, bahkan termasuk amalan takwa jika kita mengetahui cara-caranya. Itulah sebabnya orang-orang yang shaleh dan para Nabi pada masa hidupnya tidak pernah melupakan bekerja untuk nafkah keluarganya. Sebagaimana yang terjadi pada Nabi Daud As., beliau setiap hari tekun membuat pakaian dari besi, lalu dijual kepada kaumnya. Dari hasil itu beliau gunakan untuk mencukupi kebutuhan dirinya, keluarganya, dan untuk menegakkan agama Allah.

Rasulullah Saw., dalam sejarahnya juga termasuk orang yang giat bekerja. Pada mulanya beliau bekerja menggembala kambing milik pamannya. Setelah beliau menginjak usia muda, beliau berdagang menjajakan dagangan Siti Khadijah. Kemudian setelah dewasa dan memperoleh pangkat kenabian, beliau bekerja lewat perjuangan memerangi orang-orang kafir yang menentang agama Islam. Dari peperangan itulah beliau mendapat harta rampasan perang yang kemudian beliau mendapat bagian darinya.

Imam Ahmad bin Hanbal juga mengatakan, bahwa para sahabat Rasulullah Saw., berdagang di daratan dan di lautan, serta mengola kebun kurma. Rasulullah Saw., bersabda :

“Seseorang tidak makan yang lebih baik dari makanan yang ia hasilkan dari pekerjaan tangannya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud As., makan dari hasil pekerjaan tangannya.” (HR. Imam Bukhari)

Lalu bagaimana cara-cara bekerja yang baik dan diridhai oleh Allah, sehingga pekerjaan itu termasuk ibadah yang mendapatkan pahala ? Caranya ialah :

1. Setiap akan berangkat bekerja, niatkanlah untuk beribadah, mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluarga. Sebab, segala sesuatu tergantung pada niatnya. Rasulullah Saw., bersabda :
“Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya bagi setiap orang itu tergantung dari apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya itu menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya pun sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hijrahnya itu menuju kepada dunia yang bakall diperolehnya, atau kepada wanita yangbakal dinikahinya, maka hijrahnya itu sebatas pada apa yang ia hijrahi.  ” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mencari pekerjaan yang halal dan diridhai Allah. Meskipun hanya menjadi buruh tani atau penjual minuman di pinggir jalan, atau menjadi pegawai rendahan, yang hasilnya tidak seberapa, hal itu lebih baik dari pada menjadi Bandar kasino, tukang tadah, perampok, koruptor dan sebagainya. Rasulullah Saw., bersabda :
“Mencari harta yang halal itu wajib bagi setiap orang Islam.” (HR. Thabrani)

3. Selalu bersyukur kepada Allah Swt., setiap memperoleh hasil meskipun hasilnya sedikit. Jangan sekali-kali menggerutu apabila pekerjaannya tidak memberikan hasil atau untung. Firman Allah Swt., di dalam al Qur’an surah Ibrahim ayat 7 :
“Jika kalian semua bersyukur, niscaya Aku tambahkan bagimu beberapa kenikmatan, dan jika kamu sekalian ingkar, ingatlah bahwa siksa-Ku sangat pedih.”

4. Jujur, karena kejujuran merupakan modal utama untuk mencapai kesuksesan. Rasulullah Saw. Bersabda:
“Kalian wajib berlaku benar (jujur), karena sesungguhnya kebenaran itu selalu bersama-sama dengan kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan ke surga. Dan takutlah kalian dengan dusta, karena dusta itu selalu bersama-sama dengan kejahatan, dan kejahatan itu tentu menunjukkan kepada neraka.”

Demikian beberapa cara bekerja yang baik dan dirihai Allah Swt. Kalau cara-cara itu bisa diamalkan oleh setiap orang yang bekerja maka dia bukan hanya memperoleh hasil jerih payahnya saja, melainkan juga pahala dari Allah-pun ia perolehnya karena apa yang ia kerjakan itu adalah ibadah.

Jamaah sidang jumat rahimakumullah,

Selain apa yang telah diuraikan diatas, maka perlu kita ketahui pula bahwa di dalam bekerja jangan sampai melupakanibadah wajib yang rutin harus dikerjakan. Misalnya shalat 5 waktu atau shalat jumat, meskipun di saat pekerjaan itu tidak boleh ditinggalkan atau dalam keadaan sibuk.

Justru hal itu adalah ujian yang berat bagi kita. Karenanya hentikan pekerjaan untuk sementara waktu, lalu tunaikan shalat dengan khusyu’, selanjutnya selesaikanlah pekerjaan itu dengan baik. Itulah realisasi takwa dalam bekerja, sebagaimana yang diisyaratkan Allah Swt dalam firman-Nya yaitu dalam surah al-Jumuah ayat 10:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi , dan carilah karunia Allah dan selalulah mengingat Allah supaya kamu beruntung.”  

Jelaslah bahwa bekerja memiliki nilai yang sangat luhur dan mendapat tempat tersendiri di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Dengan bekerja telah memberikan makna “keberadaan diri kita di hadapan Allah dan Rasul-Nya”. Bagi kita yang telah menyadari makna bekerja, akan menghadirkan nuansa dan suasana ketenangan batin yang didasarkan atas rasa keimanan kita kepada Allah Swt.

Secara optimal kita bekerja, berarti kita telah menyiapkan diri untuk menjadi yang terbaik. Secara tidak langsung kita telah menyadari bahwa bumi dihamparkan bukan sekedar tempat kita menumpang hidup, melainkan justru untuk kita olah sedemikian rupa agar mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lebih berarti.

“Barang siapa yang di waktu sorenya merasa kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di waktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Semoga Allah Swt., memberikan petunjuk kepada dalam bekerja sehingga pekerjaan kita selalu diwarnai dengan ketakwaan. Amin.

Baarakallahu lii walakum bil qur’anil ‘adzim wa nafa’anii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakim. Wa taqabbala minni waminkum tilawatahu innahu huwas sami’ul ‘alimm. Wa qul rabbighfir warham wa anta khairur rahimin.


View the original article here

Tema Khotbah Jumat - Ihsan dan Berbuat yang Terbaik

 


Khotbah Jumat merupakan semacam nasihat-nasihat baik bagi umat muslim yang biasanya diberikan saat umat muslim, khususnya kaum lelaki pada saat melaksanakan shalat Jum’at. Khotbah Jumat merupakan pelajaran tentang akhlak yang bisa Anda dapat secara gratis.


Khotbah apapun jenisnya, pasti selalu berisi ajaran-ajaran baik untuk umat muslim, begitupun dengan khotbah Jumat. Ajaran-ajaran baik itu biasanya bersumber pada riwayat nabi atau perjalanan Islam itu sendiri.


Pelajaran hidup dan kisah-kisah menarik akan menjadi sesuatu yang bisa Anda petik ketika mendengarkan khotbah Jumat. Apa yang diriwayatkan oleh para sahabat nabi dan menginspirasi umat muslim menjadi semacam santapan rohani. Kebutuhan akan nasihat-nasihat baik dan petunjuk bagaimana seharusnya bersikap akan membuat kita menjadi insan yang lebih baik.


Khotbah Jumat seperti menjadi salah satu cara yang ditempuh Islam untuk membuat kehidupan umatnya menjadi lebih baik. Dengan mengetahui nilai-nilai kebaikan, diharapkan umat dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Melalui khotib, isi dari khotbah Jumat itu tersampaikan dan diharapkan akan membawa dampak baik.


Islam mempunyai cita-cita menjadikan setiap muslim menjadi pribadi yang berkarakter kokoh, sempurna, iman dan akidah yang kuat, serta akhlak yang baik. Untuk mencapai cita-citanya tersebut, khotbah Jumat menjadi salah satu cara yang ditempuh.


Berbuat baik kepada sesama atau ihsan merupakan puncak ibadah dan akhlak yang harus dimiliki oleh setiap hamba Allah. Meskipun demikian, setiap muslim hendaknya tidak memandang ihsan sebagai akhlak yang utama, tapi harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian paling besar dari keislamannya.


Allah Swt telah membagi perilaku hubungan manusia dalam dua hal, yaitu hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia. Dua hal itu harus dipenuhi jika ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Berbuat baik atau ihsan akan membawa Anda ke dalam kehidupan yang lebih bermakna.


Materi dari khotbah Jumat bisa bertemakan apapun. Perihal perilaku serta fenomena yang tengah terjadi di masyarakat juga bisa dijadikan materi ketika seorang khotib membawakan khotbah Jumat. Apa yang tengah hangat di masyarakat justru akan menjadi sebuah materi yang menarik. Jama’ah Jumat akan merasa lebih terpanggil. Salah satu materi yang rasanya cukup sering dijadikan materi khotbah Jumat adalah mengenai perilaku manusia.


Khotbah Jumat  dalam artikel ini akan membahas mengenai apa itu ihsan. Arti ihsan adalah berbuat baik. Di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman mengenai hal ini.


“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri….” (Q.S Al-Isra’ : 7)


“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu….” (Q.S. Al-Qashash : 77)


Dua ayat tersebut cukup sering disampaikan dalam khotbah Jumat yang membahas tema ihsan ini. Menurut Ibnu Katsir,  ayat tersebut  menggambarkan bahwa berbuat baik merupakan sebuah keharusan bagi umat manusia kepada semua makhluk.


Terdapat 166 ayat di dalam Al-Qur’an yang membahas tentang ihsan dan implementasinya. Hal ini menunjukkan betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ihsan. Ihsan mendapat porsi sangat istimewa di dalam Al-Qur’an. Berikut ayat-ayat yang menjadi landasan sifat ihsan. Ayat-ayat tersebut pasti cukup sering Anda dengar ketika mendengarkan khotbah Jumat.


“…serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia….”(Q.S. Al-Baqarah: 83)
“…dan berbuat baiklah terhadap dua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan para hamba sahayamu….”(Q.S. An-Nisaa`: 36)


Selain Al-Qur’an, apa yang dikatakan oleh Rasulullah mengenai ihsan ini juga biasa diperdengarkan pada jamaah pada saat melakukan khotbah Jumat. Nyatanya, Rasulullah juga sangat memberi perhatian terhadap sifat ihsan ini. Ihsan adalah puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Di antara hadits-hadits tentang ihsan, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama Islam.


Rasulullah bersabda:


“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik….”(HR. Muslim)


Dalam beribadah, setiap muslim berkewajiban untuk ihsan. Artinya setiap Muslim harus menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji dan ibadah lainnya dengan cara yang benar (menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adab lainnya). Pelajaran tentang itu akan Anda dapat ketika mendengarkan khotbah Jumat yang memiliki tema ihsan.


Khotib selaku sosok di balik khotbah Jumat pasti cukup akrab dengan kalimat berikut ini, bahwa ibadah dapat dilakukan jika seorang hamba tersebut sadar bahwa Allah senantiasa memantaunya sehingga ia merasa sedang dilihat dan diperhatikan Allah. Dengan cara inilah, seorang hamba dapat melakukan ibadah dengan baik dan sempurna. Hal ini sesuai dengan perkataan Rasulullah, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”


Ibadah itu memiliki arti yang luas. Selain shalat, ibadah lainnya yang juga penting adalah hormat terhadap mukmin, mendidik anak, jihad, menyenangkan istri, dan lain-lain. Sikap ihsan dalam kehidupan sangat penting. Oleh karena itu, Rasulullah menginginkan umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yakni selalu sadar jika ingin mewujudkan ihsan dalam setiap ibadahnya. Perbuatan baik seperti itu juga terpaparkan dalam khotbah Jumat.


Dalam hal muamalah, ihsan dijelaskan Allah pada surat An-Nisaa’ ayat 36:


“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu….”


Sekarang, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang termasuk dalam bahasannya. Berikut adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut.

Ihsan kepada kedua orangtua.Ihsan kepada kerabat karib.Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin.Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat.Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya.Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia.Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang.

Mereka yang dikenai perbuatan ihsan juga pasti sering Anda dengar ketika khotbah Jumat sedang berlangsung.


Ihsan di dalam akhlak sebenarnya adalah buah dari ibadah dan muamalah. Seorang Muslim akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya jika ia sudah melaksanakan ibadah seperti harapan Rasulullah. Apabila hal ini sudah dicapai, sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Mendengarkan khotbah Jumat lalu mengamalkannya juga merupakan salah satu contoh ihsan.


Nilai ihsan pada seseorang dapat tercermin dalam muamalah kehidupannya, seperti bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungan, pekerjaanya, bahkan terhadap dirinya sendiri. Ihsan merupakan puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Setiap Muslim yang menyadari hal ini, tentunya akan berusaha semaksimal mungkin mencapai tingkat tersebut.


Mendengarkan khotbah Jumat dengan tema berbuat baik terhadap sesama atau ihsan ini seperti sebuah aturan main dalam sebuah kehidupan. Jika ingin hidup Anda lancar, mengikuti aturan main adalah salah satu caranya. Semoga kita semua dapat mencapai puncak prestasi dalam beribadah. Wallahu a’lam bish-shawwab.


View the original article here

Materi Khutbah Jumat Tentang Ujian dan Musibah

Berikut adalah salah satu contoh materi khutbah jumat.

Alhamdulillahi nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu, wa na’udzu billahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyiati a’malinaa. Man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yudlil falan tajidalahu waliyyan mursyidan. Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Jemaah sidang jumat rahimakumullah,

Di dalam menempuh perjalanan hidup dunia yang fana (tidak abadi) ini, ummat manusia senantiasa mendapat ujian dan musibah. Silih berganti datangnya ujian dan berbagai macam bentuk musibah yang menimpa kehidupan manusia.

Allah Swt., berfirman kepada hamba-Nya sebagai berikut :

“Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan berkata : Kami telah beriman, tetapi mereka tidak diuji ?” Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang dahulu sebelum mereka. Maka sesungguhnya Allah mengetahui siapa orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut : 2 dan 3)

Ujian dan musibah itu sudah berlaku dan terjadi kepada ummat manusia sejak zaman dahulu kala, bahkan terjadi kepada diri dan keluarga para Nabi dan Rasul Allah, seperti yang terjadi pada keluarga Nabi Ya’kub As. Yaitu ketika putra Nabi Ya’kub As., yang bernama Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya, dengan cara menipu orang tuanya. Setelah beberapa tahun lamanya Yusuf belum ditemukan, kemudian Benyamin juga tertahan di Mesir. Maka Nabi Ya’kub As., mengalami kesedihan dan penderitaan, ujian dan musibah datang silih berganti tidak henti-hentinya.

Perjalanan hidup manusia tidak selalu mendatar di atas jalan yang licin, adakalanya mereka berjalan mendaki di atas bukit dan menurun ke jurang melalui batu-batu kerikil, bahkan mereka diserbu angin topan di padang pasir dan dihempas gelombang sambung menyambung di samudra luas.

Dalam menghadapi ujian dan musibah itu, pertahanan yang sangat ampuh adalah bersikap sabar. Pengertian sabar menurut arti bahasa ialah: “Teguh hati tanpa mengeluh di timpa bencana”. Sabar itu adalah sikap dan pancaran yang timbul dari dalam hati yang paling dalam karena sikap taslim atau istislam, yakni berserah diri kepada ketentuan Ilahi, setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Orang yang bersikap sabar sebelum melaksanakan usaha atau ikhtiar secara bersungguh-sungguh itu namanya malas. Dan orang yang bersikap sabar demikian karena tiada pilihan lain menerima saja, juga tidak dinamakan sabar, tetapi sikap itu adalah berputus asa.

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tidak putus asa dari rahmat Allah melainkan kaum kafir.” (QS. Yusuf : 87)

Jemaah sidang jumat rahimakumullah,

Begitu ummat yang pandai mengambil hikmah dan pelajaran dari ujian dan musibah itu, akan tampillah mereka menjadi ummat yang benar-benar beriman, karena firman Allah Swt., di atas memberikan keterangan kepada ummat yang beriman, sebagai berikut :

1.       Ummat yang beriman senantiasa akan diuji di dalam perjuangan hidupnya, baik pribadi dan keluarganya, maupun jamaahnya.

2.       Ummat sebelum ummat manusia yang sekarang inipun telah diberikan berbagai ujian, seperti pada Nabi, Rasul, sahabat ulama dan pemimpin Islam.

3.       Ujian dan musibah itu adalah untuk memilih siapa di antara ummat manusia yang tabah dan teguh memegang akidah, dan siapa di antara ummatnya yang sabar dan ikhlas atau yang pembohong.

Ujian dan musibah itu datang dalam berbagai macam bentuk dan sifatnya, seperti yang dijelaskan Allah Swt., didalam Al Qur’an sebagai berikut :

“Sesungguhnya Kami akan beri kamu ujian dengan sebagian daripada ketakutan, kelaparan, kekurangan harta dan jiwa dan buah-buahan; dan berilah berita yang menyenangkan kepada mereka yang sabar. ” (QS. Al Baqarah: 155)

Firman Allah Swt., itu memberikan 5 macam bentuk ujian dan musibah, yaitu :

1.       Sifat takut (Al khauf)
Sifat takut ini dimiliki manusia sejak zaman dahulu, di samping memiliki sifat pemberani. Nabi Muhammad Saw., dan para sahabatnya walaupun sudah melakukan hijrah, namun ancaman dan tekanan dan orang-orang kafir dan musyrik di Mekkah terus dilancarkan dalam berbagai bentuk tekanan dan intimidasinya.

Setelah tiba di kota Madinah Nabi Muhammad Saw., dan para sahabatnya disambut oleh kaum Anshar, juga mendapat ancaman dari kabilah di luar kota Madinah, fitnah datang dari kaum Yahudi di Madinah, dan bangsa Romawi yang memegang kekuasaan di bagian utara juga akan menyerang Rasulullah Saw.

Kenyataan sifat takut itu pun dimiliki ummat Islam dewasa ini dalam menyampaikan dakwah dan ajaran Islam. Di antara sebab kemunduran ummat Islam dewasa ini adalah karena sifat takut itu banyak menguasai diri ummat Islam.

Sifat takut itu dapat mematikan semangat dan cita-cita, dan dapat melumpuhkan semangat perjuangan, bahkan sifat takut itu mendorong orang mendiamkan kejahatan dan kemungkaran, karena takut menegakkan keadilan dan kebenaran hanya untuk keselamatan diri sendiri.

2.       Kelaparan (Al Juu’)
Kelaparan dan kemiskinan tidak hanya terjadi pada zaman Rasulullah Saw., saja karena perjalanan hijrahnya, pada masa kini pun banyak terjadi kematian karena kelaparan, bukan hanya di Afrika terutama di Somalia, tetapi di dalam media cetak sudah diberitakan di Papua Barat sejak tahun 1982 samapai 1984 sejumlah orang mati karena kelaparan.

3.       Kekurangan harta benda (Naqsun minal amwaali)
Ketika Rasulullah Saw., dan para sahabatnya hijrah, tidak membawa harta benda, yang mereka selamatkan hanyalah keyakinanagama Islam, hijrah yang dilakukannya hanyalah membawa cita-cita aqidahnya. Dewasa ini pun ummat manusia terancam kekurangan harta benda karena rugi dalam perdagangan, atau terkena musibah kebanjiran dan kebakaran.

4.       Terancam keselamatan jiwa (Al Anfus)
Pada waktu Rasulullah Saw., dan sahabatnya hijrah dari Mekkah ke Madinah, kelurganya ditinggalkan, istri dan anak-anak ditinggalkan, hidup menanggung derita penuh ujian dan diliputi musibah. Ancaman dari kaum kafir dan musyrik berupa pembunuhan dan pembantaian sangat ganas dan beringas yang banyak mengakibatkan kematian di pihak ummat Islam. Dewasa ini ancaman keselamatan jiwa ummat Islam di berbagai Negara yang ada di dunia ini terus berlangung, seperti di Palestina, Afrika, Afghanistan, Pakistan dan sebagainya.

5.       Kekurangan buah-buahan (Ats Tsamarat)

Akibat dari hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., sehingga para pengikutnya meninggalkan kebun-kebun kurma sebagai sumber makanan pokok pada waktu itu. Dan saat ini pun ummat manusia mengalami kekurangan buah-buahan atau sumber makanan pokok, karena kesukaran mencari tanah untuk bertani, atau sering terjadi kekeringan dan kebanjiran oleh karena kesalahan manusia dalam mengolah tanah dan hutan.

Hutan dibabat yang menimbulkan kebanjiran, atau kekeringan yang menimbulkan kebakaran-kebakaran atau pohon buah-buahan itu dimakan hama sehingga tidak menghasilkan buah-buahan yang sangat diperlukan.

Jemaah sidang jumat rahimakumullah,

Ummat manusia dahulu dan sekarang senantiasa diuji oleh Allah Saw., perbedaannya terletak hanya pada situasi dan kondisi lingkungan hidupnya, dan terletak pada peristiwanya saja. Namun semua ujian dan musibah itu akan dirasakan oleh ummat manusia sebagai derita yang menimpa hidupnya.

Setelah ummat manusia secara merata terkena ujian dan berbagai macam bentuk musibah, Allah Swt., memerintahkan kepada Rasul-Nya

“Sampaikanlah berita gembira kepada ummat yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)

Baarakallahu lii walakum bil qur’anil ‘adzim wa nafa’anii wa iyyakum bil ayaati wa dzikril hakim. Wa taqabbala minni waminkum tilawatahu innahu huwas sami’ul ‘alimm. Wa qul rabbighfir warham wa anta khairur rahiminn. 


View the original article here

 
© 2009 Anne Ahira Artikel | Powered by Blogger | Built on the Blogger Template Valid X/HTML (Just Home Page) | Design: Choen | PageNav: Abu Farhan